BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Untuk mengontrol penyebaran Covid-19, Provinsi Jawa Barat, mengikuti jejak Korea Selatan yang berhasil mengetes setidaknya 0,6% dari total populasi warganya. Baik Jabar maupun Korea Selatan masing-masing memiliki jumlah penduduk di kisaran 50 juta orang.
Sehingga, Gubernur Jabar Ridwan Kamil berencana akan mengetes setidaknya 0,6% dari total populasi Jabar atau setara 300 ribuan orang. Saat ini, progres pengetesan tersebut telah tercapai separuhnya.
"Sekarang warga yang sudah dites mencapai 110 ribu orang melalui rapid test dan PCR," ungkap Emil, sapaan Ridwan Kamil dalam video yang ditayangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (16/5/2020).
Emil mengatakan, pihaknya akan terus mengejar target pengetesan 300 ribu orang tersebut. Untuk mempercepat prosesnya, dia menyebutkan bahwa Jabar saat ini telah memiliki 9 laboratorium pemeriksaan yang dianggap kapabel untuk menangani sampel tes Covid-19.
"Kami akan lakukan di 9 lab yang sudah punya teknologinya. Kapasitas pemeriksaan kami meningkat dari 140-an sampel per-hari menjadi 2.100 sampe per-hari," jelasnya.
Dia menuturkan, warga yang berhak menerima tes Covid-19 adalah kelompok yang dinilai paling rawan. Mulai dari para Pasien Dalam Pengawasan (PDP) hingga warga dengan profesi yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan banyak orang.
"Yang dites adalah yang paling rawan; PDP dan keluarga serta kontak terdekatnya, tenaga kesehatan, dan orang dengan profesi-profesi yang berinteraksi dengan kerumunan," ungkapnya.
"Kami berharap dalam waktu dekat pengetesan bisa segera sampai 300 ribu. Minggu ini kami lakukan tes di terminal dan pasar-pasar itu terbukti, ada 1%-nya yang positif," jelasnya.
Untuk itu, dia mengatakan kedisiplinan warga untuk melakukan protokol keesehatan termasuk tidak berkerumun adalah hal yang penting. Emil menyebutkan, modal kepatuhan sosial adalah hal yang sangat penting bagi Jabar untuk menekan penyebaran Covid-19.
"Kami itu jumlah penduduknya hampir sama dengan Korea Selatan tapi anggarannya hanya 1% dari mereka. Selama vaksin belum ditemukan maka senjata kita adalah pencegahan, dengan rumus dimana ada kerumunan di sana ada Covid-19," ungkapnya. (Nur Khansa)