Nasional

Kartu Prakerja Rawan Kepentingan Harus Diaudit BPK, Ini Temuan CBA

Oleh: Admin Rabu 13 Mei 2020, 10:19 WIB
Ilustrasi kartu prakerja

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) didesak segera masuk untuk mengaudit penggunaan dana pelatihan Kartu Pra Kerja sebesar Rp 5,6 triliun.

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengatakan, program Kartu Prakerja rawan dengan konflik kepentingan. Hal ini ditengarai adanya hubungan salah satu Kartu Pra Kerja, yaitu Bukalapak dengan pejabat tinggi Partai Golkar. 

Seperti diketahui, ada delapan mitra pelatihan Kartu Pra Kerja selain Bukalapak, yaitu Ruangguru, Tokopedia, Mau Belajar Apa, Sekolahmu, Pijar Mahir, Sisnaker, Pintaria. 

“Dalam akta perusahaan yang kami dapatkan, tampak ada nama Pandu Satria Sjahrir sebagai pemilik saham di PT Bukalapak,” beber Uchok.

Siapakah gerangan Pandu Patria Sjahrir? Seperti yang dimuat dalam situs web perusahaannya, PT Toba Sejahtera Tbk, Pandu Patria Sjahrir Lahir di Boston – Amerika Serikat, 17 Mei 1979.

Sebelum bergabung dengan PT. Toba Bara Sejahtera Tbk, ia pernah berkarir sebagai Analis Senior spesialisasi sektor energi dan pertambangan di Matlin & Patterson dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010, sebagai Principal di Byun & Co, Alternative Energy Fund Asia (2002 – 2005) dan sebagai Analis di Lehman Brothers (2001 – 2002).

Pandu Patria adalah keponakan Luhut Panjaitan. Ia adalah anak kedua dari adik Luhut, DR Nurmala Kartini Pandjaitan yang menikah dengan ekonom Dr Syahrir.

Toba Bara sendiri merupakan grup perusahaan yang memiliki bisnis di berbagai bidang. Dari mulai bidang energi, kelistrikan, pertambangan, migas, perkebunan-hutan tanaman industri, dan properti.

Perusahaan ini dulunya dimiliki oleh Luhut Binsar Pandjaitan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Luhut juga ketua Dewan Pembian Partai Golkar. Di sinilah letak konflik kepentingannya menurut Uchok.

“Jadi penanggung jawab program ini adalah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang sekaligus Ketua Umum Golkar, sementara salah satu perusahaan yang ditunjuk sebagai mitra adalah milik keponakan kandung Ketua Dewan Pembina Golkar.”

Reporter Admin
Editor Widya Victoria