Nasional

21 Kutipan Menginspirasi dari R.A Kartini

Oleh: Admin Selasa 21 Apr 2020, 09:44 WIB
Peringatan Hari Kartini 21 April

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Besarnya pengaruh Raden Ajeng Kartini  membuat ia memiliki tempat khusus di hati bangsa Indonesia. Hari kelahirannya pun rutin diperingati setiap tahun. 

Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Kabupaten Jepara. Lahir dari keluarga bangsawan Jawa, ayah Kartini Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang patih yang diangkat menjadi Bupati Jepara setelah Kartini lahir.

Kartini sendiri merupakan anak sulung tetapi bukan dari istri utama karena ibunya M.A. Ngasirah bukanlah seorang bangsawan. Kebijakan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bangsawan juga beristri bangsawan. Maka dari itu ayah Kartini kemudian menikah lagi dengan Raden Adjeng Moerjan yang merupakan keturunan langsung dari raja Madura.

Perbedaan pandangan hidup antara R.A Kartini dengan orang tuanya tidak membuat sosoknya tumbuh menjadi anak yang kerasa kepala dan pembangkang. Kartini tetap menghormati keputusan kedua orang tuanya yang menyuruhnya untuk menikah daripada melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. 

Alih-alih membenci keputusan mereka, Kartini mencari jalan keluar demi mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik.

Rasa ingin tahu yang dimiliki Kartini sangat besar, ia tidak pernah puas dalam mempelajari suatu hal, ia selalu bertanya sampai rasa penasaran tersebut terpenuhi. Tidak jarang ia mengungkapkan isi hatinya dengan menulis surat untuk sahabat pena di Belanda dan kini surat-surat tersebut dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang“. 

Meski sosoknya telah tiada, kata-kata yang pernah terucap dan ditulis oleh R.A Kartini masih menjadi insipirasi bagi banyak wanita di Indonesia, bahkan dunia, hingga kini. 

Berikut beberapa kutipan terbaik dan penuh inspirasi dari R.A. Kartini yang Ayojakarta rangkum dari berbagai sumber dalam rangka memperingati Hari Kartini 21 April 2020.

1. "Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri." 

2. "Saat membicarakan orang lain Anda boleh saja menambahkan bumbu, tapi pastikan bumbu yang baik."

3. "Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai."

4. "Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang."

5. "Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam."

6. "Tahukah engkau semboyanku? 'Aku mau!' Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata 'Aku tiada dapat!' melenyapkan rasa berani. Kalimat 'Aku mau!' membuat kita mudah mendaki puncak gunung."

7. "Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggung lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya. 

8. "Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia."

9. "Bukan laki-laki yang hendak kami lawan, melainkan pendapat kolot dan adat usang."

10. "Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba, jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang."

11. "Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi. Bila tidak bermimpi apakah jadinya hidup. Kehidupan yang sebenarnya kejam."

12. "Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam."

13. "Tak peduli seberapa keras kamu mencoba, kamu tak akan pernah bisa menyangkal apa yang kamu rasa. Jika kamu memang berharga di mata seseorang. Tak ada alasan baginya untuk mencari seorang yang lebih baik darimu."

14. "Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya."

15. "Tak ada hal yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai".

16. "Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti dua orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti."

17. "Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh, demikianlah pula dalam hidup manusia bukan? Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbullah angan-angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikan buah."

18. Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini.

19. Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita, semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia.

20. Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku.

21. Habis gelap terbitlah terang.

Reporter Admin
Editor Widya Victoria