Nasional

Kisah di Balik Pengakuan Pencak Silat Sebagai Warisan Budaya RI

Oleh: Admin Rabu 18 Des 2019, 11:28 WIB
Heru Nugroho (batik coklat muda) saat berbincang bersama sesepuh pencak silat Eddie M Nalapraya, KRMT Roy Suryo (batik biru), dan Moddy (kaos hitam)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Daftar warisan budaya tak benda Indonesia bertambah dengan ditetapkannya pencak silat oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Penetapan pencak silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia melalui sidang ke 14 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage yang diselenggarakan UNESCO di Bogota, Kolombia sejak 9-14 Desember 2019.

Siapa sangka di balik kabar gembira ini terselip kisah perjuangan panjang dan penuh lika-liku.

Mengulas kembali lima tahun lalu ketika Heru Nugroho bersama tim yang dibentuknya di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menelusuri sumber-sumber primer yang memberi gambaran bahwa pencak silat telah menyatu dalam jiwa masyarakat Indonesia.

Bukti jejak pencak silat ini, menurut Heru, bisa dilihat jelas pada ukiran banyak candi yang terkenal sakral di Indonesia, seperti Candi Borobudur dan Prambanan. Termasuk pada beberapa candi atau jejak relief yang masih eksis dan tersebar di wilayah Pulau Jawa, Sumatera dan Bali.

"Berbagai tulisan dan ungkapan di era sekarang yang memberikan gambaran betapa pencak silat merupakan salah satu budaya bangsa nusantara yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakatnya, berserakan di internet atau buku-buku yang bisa dicari di berbagai perpustakaan dan toko buku," papar Heru seperti dikutip redaksi Ayojakarta dari status akun Facebook-nya yang diunggah belum lama ini.

Namun rupanya begitu sulit untuk menemukan sumber primernya di seantero perpustakaan, toko buku, bahkan berbagai padepokan di Indonesia, apalagi di internet.

Ia pun lantas mengajukan permohonan kepada Menpora saat itu, KRMT Roy Suryo, agar bisa memberangkatkan lima anak muda yaitu Moddy, Amran, Mia, Soe Sandireja dan Fahmi ke beberapa museum di Eropa.

Lima anak muda yang disebut ini atas rekomendasi Eddie M Nalapraya, sesepuh pencak silat yang diakui secara nasional dan internasional.

"Menurut team tersebut, referensi paling menarik justru tersimpan rapi di Museum Leiden, Belanda yang secara meyakinkan memberi gambaran bahwa pencak silat berkembang di nusantara sebagai sebuah kegiatan budaya yang punya peran penting dalam pembentukan karakter masyarakat sejak ribuan tahun lalu," lanjut Heru yang mantan Sekjen Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

Ia mencermati hampir semua pihak ketika bicara tentang pencak silat, selalu berkonotasi pada urusan berantem, minimal urusan olahraga dan beladiri dalam konteks kegiatan fisik.

"Padahal, dari yang kami teliti melalui sumber-sumber primer, pada dasarnya pencak silat adalah sebuah jalan yang banyak ditempuh para leluhur bangsa nusantara dulu untuk membangun kualitas moral, mental, pikiran dan fisik itu sendiri yang akan ter-refleksikan dalam bangunan karakater kemanusian seseorang," jelasnya.

"Jadi, zaman dahulu kala, leluhur bangsa ini sudah punya cara dalam rangka membangun karakter bangsa. Salah satunya melalui pencak silat," sambung Heru memberi gambaran.

Hasil penelitian dan riset tentang pencak silat, yang memakan waktu lumayan panjang akhirnya dapat didusun dalam sebuah dokumen. Selanjutnya atas arahan Eddi M Nalapraya, dokumen tersebut menjadi sebuah proposal yang diajukan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk didaftarkan masuk UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda.

"Terima kasih pada Pak Eddie yg merupakan "Pusat Energi" dari upaya ini. Saya menyampaikan hormat atas "legacy" beliau yang satu ini, sehingga pencaksilat tetap bisa eksis di era modern sekarang ini," tulis Heru lebih lanjut.

Menurut Heru, keberhasilan ini juga tak lepas dari dukungan Roy Suryo sebagai menpora ketika itu.   

"Terima kasih pada sobatku, KRMT Roy Suryo yang berkenan menyisihkan anggaran dan memprogramkan-nya di kementerian yang dipimpinnya waktu itu, serta dukungannya atas upaya ini.

Terima kasih Moddy cs yang dengan segala kekurangannya berupaya menyusun dokumen-dokumen langka menjadi sebuah hasil analisis menarik," sebut Heru.

Di akhir postingannya, ada pesan bernada satire dituliskan Heru. "Puji syukur dan terima kasih kepada leluhur bangsa yg telah mewariskan ajaran-nya yg luar biasa, meskipun ajaran tersebut kini sudah tidak lagi terlalu dipedulikan oleh mayoritas keturunannya…."

TAGS:
Reporter Admin
Editor Widya Victoria