Nasional

Program Pertanian Masuk Sekolah Bisa Atasi Persoalan Regenerasi Petani

Oleh: Admin Sabtu 30 Nov 2019, 10:58 WIB
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo. (Dok. Humas Kementan)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Kementerian Pertanian (Kementan) terus berusaha membangun ketahanan pangan melalui beberapa pendekatan metode seperti familly farming, lumbung pangan dan kebun sekolah. 

Hal itu dilakukan Kementan melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP). Penerapan kebun sekolah untuk menarik minat generasi muda di sektor pertanian dilakukan melalui program Pertaian Masuk Sekolah (PMS). Upaya Penerapan program Pertanian Masuk Sekolah (PMS) sebagai materi pembelajaran siswa dianggap penting untuk mengatasi masalah regenerasi petani.

"Langkah fundamental ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa sektor pertanian sangat menjanjikan sebagai profesi yang bisa menjadi hobi bagi kaum urban dan trendi sebagai gaya hidup modern," ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, Sabtu (30/11/2019).

Menurut Kuntoro, promosi dan proses edukasi perlu digagas sejak dini melalui berbagai aktivitas pertanian, berupa kurikulum kecakapan hidup (life skill) atau pembelajaran ekstrakurikuler di sekolah.

"Ide memasukkan pertanian sebagai muatan lokal dalam pendidikan formal sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Konsep ini sudah mulai diterapkan di sejumlah sekolah. Sebut saja Sekolah Alam dan program adiwiyata di sekolah perkotaan. Keduanya menggunakan pendekatan alam dalam kegiatan belajarnya," lanjutnya.

Kuntoro mengatakan, dalam penerapan konsep ini para siswa diperkenalkan berbagai jenis sayuran dan tanaman yang akan dibudidayakan. Mereka juga dilatih cara memploting lahan serta pengendalian hama dan penyakit. Selain itu, para siswa diberi penjelasan bagaimana besarnya manfaat dan nilai ekonomis hasil pertanian.

"Bahkan, di beberapa sekolah para siswa diajarkan cara membuat pupuk organik dari limbah. Aktivitas dilakukan secara menyenangkan untuk memberi kecintaan siswa terhadap kegiatan ini dengan harapan mereka mampu mereplikasinya di rumah," ucapnya.

Dikatakan Kuntoro, manfaat lain dari kegiatan ini adalah membiasakan para siswa untuk mengonsumsi sayuran dari hasil panen di sekolah. Kegiatan ini memiliki alasan yang sangat kuat, terlebih imbauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan agar setiap manusia mengkonsumsi sayur dan buah sebanyak 400 gram per hari.

"Konsumsi sayuran yang harus dikonsumsi untuk diet seimbang ialah sebesar 200 gram per kapita per hari. Sedangkan tingkat konsumsi sayur di Indonesia masih di bawah standar kecukupan. Sebagai perbandingan, Singapura sebagai negara tetangga untuk tingkat konsumsinya lebih tinggi dari Indonesia," katanya.

Berdasarkan data yang ada, tingkat konsumsi sayur di Singapura mencapai 120 kg/kapita/tahun, kemudian Tiongkok mengkonsumsi 270 kg/kapita/tahun, dan Kamboja yang mengkonsumsi 109 kg/kapita/tahun. Adapun konsumsi sayuran per kapita penduduk Indonesia hanya 40,35 kg/tahun, sedangkan konsumsi buah hanya 34,55 kg/tahun.

"Tentu promosi dan pengetahuan manfaat untuk lebih banyak makan sayur dan buah perlu dilakukan sejak dini termasuk melalui program Pertanian Masuk Sekolah ini," jelas Kuntoro.

Kuntoro menambahkan, konsep kebun sekolah sangat baik untuk mendorong pelaksanaan kegiatan Family Farming yang menjadi program prioritas Menteri Pertanian di enam bulan pertama kerja. Sebagai tahap awal, kegiatan Pertanian Masuk Sekolah akan dilaksanakan di 68 sekolah pada 34 provinsi.

"Tentunya, implementasi program yang dimulai tahun ini dengan BKP sebagai penanggung jawab  tidak bisa jika hanya mengandalkan inisiasi Kementerian Pertanian. Dalam prosesnya, program ini perlu dikoordinasikan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan pemerintah daerah," tambahnya.

Reporter Admin
Editor Aldi Gultom