JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Sebuah penelitian menemukan bahwa mayoritas anak didik merasa tidak aman saat berada di sekolahnya sendiri.
Karena itulah praktik kekerasan pada anak-anak di sekolah harus segera diakhiri lewat kerjasama semua pihak. Hal ini pula yang dilakukan sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Indonesia Joining Force to End Violence Against Children.
"Indonesia Joining Force ingin mendorong berbagai pihak, termasuk media, untuk meningkatkan kesadaran terkait isu kekerasan pada anak, khususnya hukuman fisik di sekolah," kata Manajer Projek Indonesia Joining Force, Laura Hukom, melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (26/11/2019).
Indonesia Joining Force merupakan gabungan dari Childfund International di Indonesia, Yayasan Plan International Indonesia, SOS Children's Villages Indonesia, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Yayasan PKPA bersama Federasi Internasional Terre des Hommes, dan Wahana Visi Indonesia.
Laura mengatakan, sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi anak. Lingkungan sekolah yang aman akan mendorong anak berpartisipasi dalam proses belajar.
Penelitian yang dilakukan Indonesia Joining Force pada 2019 menemukan hanya 16,8 persen siswa yang mengaku merasa aman di sekolah. Sisanya mengaku merasa tidak aman dan sangat tidak aman.
Masih menurut penelitian itu, toilet dan kantin merupakan area yang paling sering menjadi tempat praktik kekerasan di sekolah.
Data International Centre for Research of Women dan Yayasan Plan International Indonesia juga menunjukkan 84 persen anak mengalami kekerasan fisik, emosi, atau seksual di sekolah.
"Setiap satuan pendidikan seharusnya bisa menerapkan prosedur standar operasi untuk mencegah tindak kekerasan dengan mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82 Tahun 2015," kata Laura.
Seruan agar pemerintah Indonesia menjalankan kebijakan dan program yang efektif untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman bagi anak juga pernah disampaikan Anggota Komite Hak-hak Anak PBB, Mikiko Otani.