JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Dua penangkapan terhadap pengkritik pemerintah dilakukan Polda Metro Jaya pada tadi malam dan pagi ini.
Pertama adalah penangkapan atas pembuat film dokumenter pendiri Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono, yang dilakukan aparat dari Polda Metro Jaya pada Kamis (26/9/2019) malam sekitar pukul 23.00 WIB. Penulis buku Jurnalisme Investigasi itu diciduk dari rumahnya di daerah Bekasi.
Kabar yang didapatkan redaksi, surat perintah penangkapan Dandhy berdasarkan laporan oleh seseorang bernama Asep Sanusi pada Selasa lalu (24/9/2019). Dandhy dianggap melakukan kejahatan pidana dengan menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan berdasarkan suku, agama, rasa dan antargolongan (SARA).
Namun, kuat dugaan penangkapan Dandhy berkaitan dengan advokasi yang dilakukannya terhadap kasus-kasus kejahatan kemanusiaan di Papua dan Papua Barat. Belakangan ini, seiring besarnya gelombang unjuk rasa mahasiswa di berbagai daerah, Dandhy semakin lantang mengkritik pemerintah dan mengecam kekerasan polisi terhadap mahasiswa.
Sutradara film dokumenter Sexy Killers itu dijerat pasal berlapis. Ia tidak mengalami penahanan. Setelah diperiksa sampai sekitar jam 04.00 WIB, Dandhy diizinkan pulang.
AYO BACA : Di Depan Tokoh Agama, Jokowi: Jangan Ragukan Komitmen Saya pada Demokrasi
Sedangkan penangkapan kedua dilakukan Polda Metro Jaya terhadap aktivis, musisi juga mantan wartawan Tempo, Ananda Badudu. Ia ditangkap pada Jumat (27/9/2019) pagi.
Dari aktivitasnya di Twitter diketahui bahwa Ananda ditangkap sekitar waktu subuh. Penangkapan Ananda terkait uang yang dihimpunnya lewat media sosial dan disalurkan untuk mendukung gerakan mahasiswa menentang RKUHP dan UU KPK hasil revisi di depan Gedung DPR/MPR.
"Saya dijemput polda karena mentransfer sejumlah dana pada mahasiswa," terang Ananda via akun twitter pribadinya, @anandabadudu
"Saya dijemput polda," tambahnya, sekitar 2 jam lalu. Ananda juga menyertakan foto yang diduga aparat Polda sedang menunjukkan surat perintah penangkapan.
Dua penangkapan ini sangat disesalkan oleh publik luas, seperti tertangkap dalam pembicaraan netizen di media sosial. Apalagi, penangkapan kepada Dandhy dan Ananda terjadi setelah mahasiswa di Kendari tertembak mati di tengah demonstrasi.
Juga sangat ironis, karena terjadi setelah Presiden Jokowi menegaskan komitmennya terhadap demokrasi saat menerima para tokoh agama di Istana Merdeka, kemarin siang.
AYO BACA : Unjuk Rasa di Kendari, Satu Mahasiswa Tewas dengan Luka Tembak