Nasional

Ketua YLBHI: Jangan Remehkan Anak STM Turun ke Jalan

Oleh: Admin Rabu 25 Sep 2019, 17:55 WIB
Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati/Ayojakarta.com

JAKARTAPUSAT, AYOJAKARTA.COM --- Ratusan pelajar dari berbagai sekolah di DKI Jakarta ikut bergabung bersama mahasiswa yang berunjuk rasa menolak sejumlah RUU di depan gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (25/9/2019). 

Dengan mengenakan seragam putih abu juga ada pramuka, massa pelajar mengatasnamakan SMK Persatuan Pelajar Jabodetabek itu turun ke jalan. 

Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati menilai unjukrasa yang terjadi beberapa hari terakhir ini menunjukkan publik paham isu. 

"Jadi janganlah kemudian menegasikan kesadaran masyarakat keprihatinan masyarakat, dan kemarahan masyarakat. Karena selama ini haknya direbut dengan mengatakan ini ada orang di baliknya," ujar Asfinawati di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Jalan Pegangsaan, Jakarta Pusat. 

Menurut dia, tuduhan pemerintah bahwa ada aktor yang menunggangi aksi mahasiswa justru semakin melukai hati rakyat. 

"Kepada kepolisian saya sering mengikuti aksi kalau tidak ada kekerasan dari kepolisian biasanya massanya tidak akan melakukan kekerasan," terangnya. 

"Kalau ada bagian massa yang melakukan kekerasan maka orang yang melakukan kekerasan itu bisa diangkat dari lingkarannya. Bukan keseluruhan orang yang tidak melakukan tindakan apa-apa juga diusir," sambungnya. 

Asfina juga menekankan, para pelajar yang turun aksi tidak bisa dianggap remeh, sekadar ikut-ikutan.

"Kita harus bertanya para 'STM' itu ya, dan tidak melakukan prasangka terlebih dahulu harus ditanya dahulu 'STM' itu kan dewasa pemikirannya meskipun masih anak-anak tapi sudah berpikir," tegasnya. 

Terlebih, Indonesia sudah meratifikasi konvensi hak anak, termasuk memiliki Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak. 

"Dalam kedua aturan itu dikatakan, anak itu punya hak punya kebebasan berpendapat, berkumpul, bahkan berkeyakinan sesuai dengan tingkat kematangannya, dan mereka kan bukan anak SD," jelasnya. 

Kericuhan masih terjadi hingga jelang magrib di beberapa titik objek vital seperti di kawasan Palmerah atau sekitar di bawah fly over Slipi. 

Reporter Admin
Editor Widya Victoria