JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Sebanyak 113 mahasiswa yang terlibat demonstrasi di Gedung DPRD Jawa Barat, Selasa (24/9/2019), menjadi korban.
Mereka mendapat perawatan di Universitas Islam Bandung (Unisba) dan tujuh di antaranya dilarikan ke rumah sakit seperti RS Hasan Sadikin, RS Sariningsih, RS Halmahera, dan RS Boromeus Bandung.
"Ya, ada 113 orang, yang masuk rumah 7 orang. (Masuk RS) Ada yang kepalanya bocor, ada sesak nafas, tangannya patah, kaki bengkak,'' ungkap Wakil Presiden Mahasiswa Unisba Sulton Arief Mauludi kepada Ayobandung (Ayo Media Network).
Sementara mereka yang mendapat perawat di Unisba kebanyakan karena sesak nafas, memar, dan cidera ringan lainnya. Pihak kampus dibantu pihak-pihak lainnya membantu perawatan.
''Ada dari KSR, PMI Kota Bandung, Layad Rawat Pemprov Jabar, terus dari Dinkes Kota Bandung, klinik, sisanya dari relawan,'' terangnya.
Sulton pun menyayangkan pihak korban bertambah dari kalangan massa aksi. Ia menilai aparat represif sehingga hal tersebut terjadi.
"Kenapa lebih parah, tindakan represif kepolisian lebih menggila daripada kemarin. Hari ini ada bom asap, bukan cuman gas air mata, water cannon,'' cetusnya. '
Dia menerangkan, para mahasiswa yang sempat dievakuasi itu kebanyakan telah pulih dan bisa beraktivitas normal lagi.
"Alhamdulillah kampus kita masih bisa memfasilitasi," katanya.
Untuk diketahui, pada Senin (23/9/2019), selepas aksi yang sama di Gedung DPRD Jawa Barat sebanyak 92 mahasiswa dilaporkan menjadi korban. Mereka dilarikan ke Unisba.
Rektor Unisba Edi Setiadi tidak mempermasalahkan kampusnya dijadikan tempat evakuasi massa aksi. Dia menilai mahasiswa merupakan komunitas kampus yang harus dilindungi.
"Ya tidak apa-apa, jadi tempat evakuasi, tempat kawan-kawan yang kena semprot gas air mata, tidak menjadi persoalan bagi Unisba," ujarnya.