JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Bayi dan anak-anak serta kelompok rentan lainnya (perempuan, ibu hamil, hingga lanjut usia) adalah korban yang paling merasakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Anggota DPD RI yang juga aktivitis perlindungan anak Fahira Idris menekankan, ibu hamil yang terpapar asap dan tidak ditangani dengan baik berpotensi melahirkan bayi stunting, cacat atau bahkan meninggal. Selain itu, polutan kabut asap membahayakan paru-paru bayi yang sedang berkembang dan dapat secara permanen merusak otak bayi yang sedang berkembang. Sementara pada anak balita kabut asap bisa mengakibatkan gangguan kecerdasan.
Ia miris begitu banyak kerugian dan kesengsaraan yang harus ditanggung rakyat di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan akibat bencana kabut asap.
"Sementara bagi bangsa ini, jika bencana karhutla tidak tertangani dengan baik termasuk penanganan korban maka kita terancam kehilangan generasi dan SDM unggul di masa depan," terang Fahira melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Selasa (17/9/2019).
Menurut Fahira, jargon pemerintahan periode kedua Jokowi yang fokus kepada pembangunan SDM bahkan dijadikan tagline HUT ke-74 Kemerdekaan RI yaitu 'SDM Unggul Indonesia Maju' tidak akan bermakna sama sekali jika anak-anak bangsa yang merupakan kunci kemajuan Indonesia masih terpapar kabut asap akibat kebakaran hutan.
"Selama karhutla masih terjadi, visi SDM unggul Jokowi cuma mimpi. Bangsa ini tidak akan pernah jadi bangsa unggul saat ini di masa depan jika rakyatnya terus dihantui kabut asap. Bencana ini luar biasa merusak sendi-sendi utama kehidupan bangsa ini terutama masa depan anak-anak kita yang terpapar asap,” imbuh senator asal Jakarta ini.
Fahira mengatakan, Presiden Jokowi harus memandang kabut asap ini sebagai bencana besar. Karenanya harus ditangani serius untuk mewujudkan Indonesia unggul.
"Jangan pandang ini sebagai bencana biasa karena dampak jangka panjangnya sangat merugikan bangsa. Segeralah lakukan terobosan. Rakyat terutama di Sumatera dan Kalimantan sudah letih terus dihantui kabut asap," ujarnya.
Menurut dia, pernyataan meyakinkan Jokowi saat debat Pemilihan Presiden 2019 lalu, bahwa tidak pernah ada karhutla dalam tiga tahun terakhir ternyata melenakan banyak pihak. Meski kemudian diralat karhutla turun drastis karena sudah mampu diatasi pemerintah.
"Jika memang pemerintah sudah mampu mengatasi karhutla maka saat ini bencana yang menyengsarakan rakyat di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan tidak akan separah ini,"sindir dia.
Bahkan ia mencatat bayi berusia empat bulan di Banyuasin, Sumatera Selatan diduga meninggal akibat terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berbarengan dengan pekatnya kabut asap yang terjadi di sana.
“Jika saat debat dan kampanye kemarin Presiden mengklaim sudah berhasil dalam penanganan karlahut harus kondisi seburuk ini tidak terjadi lagi. Bencana kabut asap ini kan sudah berulang-ulang, harus semakin ke sini pemerintah tidak gamang dan lebih cepat dan responsif mengatasinya. Tetapi faktanya penangannya masih sporadis dan tidak komprenhensif,” pungkas Fahira.