AYOJAKARTA.COM – Rangkaian Gempa Bumi tektonik yang terjadi pada sejumlah titik di Pulau Jawa, ditengarai merupakan bagian dari siklus Megathrust.
Megathrust atau Gempa Bumi raksasa, bagi peradaban Nusantara merupakan salah satu siklus yang terjadi setiap 600-800 tahun.
Memiliki kekuatan atau Magnitudo hingga mencapai Sembilan, Gempa Bumi dengan kategori Megathrust dapat berdampak sangat besar bagi kehidupan di sekitarnya.
Baca Juga: Catat! Ini Rute Transjakarta untuk Nonton Laga Persija Jakarta vs Malut United di JIS
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan, Purna Sulastya Putra selaku Tim Peneliti BRIN menemukan adanya sedimentasi endapan tsunami purba dengan usia bervariasi.
Menurutnya, hasil sedimentasi endapan menunjukkan adanya jejak mega tsunami yang berusia antara 400, 1000 hingga 1,800 tahun di masa lampau.
Selain di wilayah Lebak dan Pangandaran, jejak adanya sedimentasi endapan megatsunami purba juga ditemukan di wilayah Kulonprogo, Jawa Tengah.
Mengacu pada temuan tersebut, Peneliti BRIN menilai terjadinya Gempa Bumi dengan skala Megathrust dan menyebabkan megatsunami masih merupakan potensi yang sukar dihindari.
Meski masih bersifat prediktif atau potensi serta belum dapat dipastikan kapan peristiwanya, Purna menyebut penting untuk melakukan langkah-langkah mitigasi.
Terlebih karena jumlah penduduk di sekitar Pulau Jawa pada tahun 2030 mendatang, diprediksi dapat mencapai sekitar 30 juta jiwa.
Selain menyimpan potensi ancaman bagi seluruh makhluk hidup, Gempa Bumi dengan kategori Megathrust serta megatsunami juga dapat melumpuhkan berbagai infrastruktur.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah Purwakarta hingga sekitar Jabodetabek, salah satu potensi tambahan ancaman juga datang dari Bendungan Ir. H. Djuanda atau Jatiluhur.
Menurut sejumlah kajian ilmiah, ketinggian air diprediksi dapat mencapai sedikitnya 10 meter atau gedung dua lantai jika bendungan mengalami kerusakan.
Saat gempa bumi dengan Magnitudo 4,9 terjadi di Bekasi pada malam tanggal 20 Agustus 2025 lalu, episentrum diketahui relatif dekat dengan lokasi Bendungan Jatiluhur.
Memiliki daya tampung hingga mencapai sekitar Tiga Milyar M³ air, daya tahan dari bendungan yang dibangun pada 1957 dengan anggaran US$ 230 Juta menyimpan kekhawatiran tersendiri.
Menyadari kemungkinan terjadinya gempa di masa depan, para perancang memutuskan untuk membuat bendungan dengan menggunakan tipe Urugan sehingga lebih fleksibel.
Baca Juga: Sudinsos Jakarta Utara Salurkan 8.658 Bansos Penerima Baru, Ini Rincian Penerima KAJ, KLJ, dan KPDJ
Salah satu bukti resistensi Bendungan Jatiluhur terhadap guncangan telah terbukti saat terjadinya gempa bumi Cianjur pada November tahun 2022.
Dengan Magnitudo mencapai 5,6 serta kedalaman 10 kilometer atau gempa dangkal, Bendungan Jatiluhur hingga hari ini tetap beroperasi optimal.
Menurut Anom S. Herudjito selaku Kepala Sub Unit Pengelolaan Bendungan Juanda, jarak antara lokasi bendungan dengan pusat gempa Bekasi hanya sekitar 15,37 KM.
Setelah dilakukan langkah pemeriksaan menyeluruh dengan menggunakan teknologi mutakhir, Anom memastikan kondisi fisik bendungan dalam keadaan aman.
“Alhamdulillahi kondisi bendungan tidak ada anomali atau abnormal,” jelasnya dikutip Ayojakarta dari Youtube Metro TV. ***