AYOJAKARTA.COM - Konten kreator sekaligus pendidik populer, Guru Gembul, baru-baru ini mengungkapkan keresahannya di kanal YouTube miliknya.
Ia merasa seperti “dibegal” oleh para reuploader yang tanpa izin mengunggah ulang video-videonya secara penuh, bahkan sampai memonetisasi konten tersebut.
Akibatnya, kanal asli milik Guru Gembul mengalami penurunan performa drastis dan mendapat tanda dolar merah dari YouTube. Dalam video klarifikasinya, Guru Gembul menjelaskan bahwa dua masalah besar kini sedang dihadapinya.
Baca Juga: Bocoran Spesifikasi Samsung Galaxy Z Fold8, Kehadirannya Bisa Memicu Ketegangan di Dunia Bisnis
“Masalah yang pertama itu adalah bahwa kanal saya tidak direkomendasikan oleh YouTube khususnya untuk video-video lama saya. Sehingga penontonnya turun hanya sekitar 40% saja,” ungkapnya.
Selain itu, YouTube juga sering memberi peringatan karena menganggap videonya sebagai hasil reupload. Situasi ini terjadi karena banyak pihak yang mengunggah ulang kontennya secara utuh, menghapus identitas asli, dan bahkan mengklaim sebagai karya mereka.
“YouTube itu kebingungan mana yang asli, mana yang tidak asli. Karena sama-sama dimonetisasi, akhirnya video saya ikut dianggap sebagai pencurian hak cipta,” kata Guru Gembul.
Ia pun menegaskan bahwa masalah ini berawal dari kelonggaran dirinya di masa lalu. Saat salah satu videonya dihapus karena menyinggung pejabat tertentu, ia sempat memperbolehkan penonton untuk mengunggah ulang sebagai bentuk arsip. Namun, izin tersebut justru disalahgunakan.
“Dulu saya bilang silakan upload, tapi jangan full, cukup potongan-potongan. Tapi makin ke sini banyak yang melanggar, reupload full video tanpa mencantumkan link asli,” jelasnya.
Bagi Guru Gembul, praktik ini bukan lagi sekadar berbagi konten, melainkan pencurian terang-terangan. Ia menekankan bahwa izin reupload bukan berarti bebas mengambil seluruh video.
“Kalau mau reupload jangan total semuanya, tapi dikit-dikit aja, potongan semenit, dua menit, tiga menit. Cantumkan link aslinya, kasih reaksi, kasih usaha sedikitlah,” pesannya.
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi para konten kreator, terutama pemula. Membuat konten orisinal membutuhkan usaha besar, mulai dari riset, editing, hingga membangun audiens.
Baca Juga: LPS: Intensitas Menabung Konsumen Landai, Niat Tetap Terjaga
Jika hasil karya dicuri begitu saja, ekosistem kreator bisa rusak. Guru Gembul pun mengajak komunitasnya untuk lebih peduli.
“Tolong sampaikan di kolom komentar mereka bahwa ini sudah level pencurian,” pintanya. Kasus yang dialami Guru Gembul menunjukkan betapa pentingnya etika digital dalam dunia kreator konten.
Menghargai karya orang lain, mencantumkan sumber, dan menambahkan nilai baru lewat reaksi atau analisis adalah hal sederhana namun krusial.***