AYOJAKARTA.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi untuk meningkatkan gizi anak bangsa justru menuai kritik tajam dari dr. Tan Shot Yen, dokter dan ahli gizi masyarakat.
Dalam podcast bersama Prof. Rhenald Kasali yang diunggah di YouTube, dr. Tan menilai MBG kini berjalan tanpa arah, penuh kesalahan mendasar, dan kehilangan esensi gizi sejati.
“Makanya ini amburadul. MBG ini amburadul sama sekali,” tegas dr. Tan. Menurutnya, masalah MBG tidak hanya soal makanan, tapi juga cara berpikir bangsa yang semakin jauh dari akar budayanya.
Baca Juga: Blueprint Otak Manusia: Rahasia Mengatur Pikiran agar Hidupmu Berubah Total
Ia menyebut, “Sudah berapa banyak bahasa daerah yang hilang? Budaya kita pun hancur. Begitu juga dengan makanan, kita kehilangan jati diri.”
dr. Tan menyoroti bagaimana menu MBG kini justru meniru budaya makan Barat seperti spaghetti dan burger, yang seharusnya bukan bagian dari pangan lokal bergizi.
“Ngapain juga program makan bergizi ngasih spaghetti? Burger wannabe, keju palsu, dagingnya pun entah dari mana,” ujarnya tajam.
Dalam pembicaraan itu, dr. Tan juga menjelaskan bahaya makanan ultra proses, yang kini mendominasi konsumsi anak-anak sekolah.
Baca Juga: Review Laptop Axio Hype 5 AMD X6 Setelah 6 Bulan Pemakaian, Apakah Performanya Menurun?
“Produk ultra proses itu dibuat oleh industri besar untuk bikin kecanduan. Rasanya enak, tapi tidak bergizi. Bahkan, Anda tak tahu itu ayam beneran atau bukan,” jelasnya.
Ia menyebut, bahkan susu rasa-rasa yang diberikan dalam program MBG tergolong makanan ultra proses. “Susu UHT dengan emulsifier itu bukan susu. Itu cairan manis yang berasa susu,” kata dr. Tan.
Padahal, Indonesia sejak 2014 telah meninggalkan konsep “4 Sehat 5 Sempurna” karena mayoritas masyarakat Asia, terutama Melayu, intoleran terhadap laktosa.
dr. Tan menekankan pentingnya protein hewani dari sumber lokal seperti telur, ikan, dan daging unggas. “Kita ini negeri kaya. Telur, ikan, daging semua ada. Tapi yang bagus justru diekspor. Kita malah makan ikan asin,” sindirnya.
Ia menutup dengan peringatan keras, “Bangsa ini kelihatannya butuh duit, bukan kesehatan. Semua yang baik dari tanah air kita dilempar ke luar negeri.”
Bagi dr. Tan Shot Yen, reformasi MBG bukan sekadar urusan gizi, tetapi soal kedaulatan budaya dan kesehatan nasional yang harus dikembalikan ke pangkuan rakyat sendiri.***