Nasional

Akses ke Daerah Takengon dan Bener Meriah Masih Terputus, Ferry Irwandi Salurkan Bantuan Lewat Jalur Udara

Oleh: Katarina Erlita Sabtu 06 Des 2025, 13:23 WIB
Ferry Irwandi Salurkan Bantuan ke Korban Banjir di Pulau Sumatera. (Sumber: Instagram.com/@irwandiferry)

AYOJAKARTA.COM - Upaya pemulihan pascabencana di Aceh kembali menghadapi tantangan berat. Meski beberapa wilayah di Sumatera mulai pulih dari banjir dan longsor, sejumlah titik di Aceh, terutama Takengon dan Bener Meriah masih dalam kondisi kritis.

Putusnya akses darat membuat distribusi bantuan tak bisa dilakukan secara normal. Karena itu, relawan dan aktivis sosial Ferry Irwandi memilih jalur udara untuk menembus kawasan yang hingga kini masih terisolasi.

Dalam unggahan yang dibagikan Sabtu, 6 Desember 2025, Ferry menyebut lebih dari satu ton bantuan telah diterjunkan ke berbagai kampung di pegunungan Gayo memakai helikopter.

Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Samsung Galaxy Z Trifold, Kamera Setara S24 Ultra Tetapi Belum Ada S Pen

Bantuan ini didistribusikan bersama Kitabisa dan TNI AU, mengingat seluruh jalur darat menuju Aceh Tengah lumpuh akibat longsor.

"Sebanyak 1 ton lebih kita distribusikan di berbagai titik dan kampung di Penggunungan Gayo. Dilanjutkan distribusi di daerah Takengon dan Bener Meriah selajuh ini distribusi udara jadi yang paling efektif di daerah-daerah tersebut karena putusnya semua akses sampai hari ini," tulis Ferry Irwandi.

Tercatat, ada 82 titik longsor dalam satu ruas jalan, menandakan betapa dahsyatnya bencana yang melanda sejak 26 November lalu.

Data Posko Tanggap Darurat Aceh menyebut total 442 titik jalan dan 224 jembatan rusak, membuat banyak daerah terputus total.

Baca Juga: Aceh Tamiang Seperti Kota Mati Pasca Banjir Bandang, Relawan Ceritakan Bau Mayat Mulai Menyeruak di Sepanjang Jalan

Lumpur basah menutup badan jalan, material kayu dan batu menggunung, sementara genangan air masih tersisa di banyak tempat.

Sebelum bergerak ke Takengon dan Bener Meriah, Ferry sempat meninjau Aceh Tamiang dan Langkat, dua wilayah dengan kerusakan terparah.

Di Aceh Tamiang, ia menggambarkan kondisi wilayah sebagai “semuanya hancur”. Jembatan ambruk, tiang listrik patah, rumah warga rusak parah, dan seluruh daerah gelap gulita akibat listrik padam total.

Lebih memprihatinkan lagi, warga mengalami krisis air bersih. Sebagian bahkan terpaksa meminum air banjir untuk bertahan hidup.

Baca Juga: BTN Cetak Pertumbuhan Fantastis, Analis Prediksi Laju Bisnis Kian Tak Terbendung

Menanggapi laporan ini, Ferry bergerak cepat mencari suplai air. Pada malam itu juga, ia berhasil mendapatkan satu mobil tangki berisi 4.000 liter air bersih yang langsung dikirim ke titik terdampak.

Di Langkat, Sumatera Utara, Ferry dan timnya menemukan sekitar 2.000 pengungsi tidur di rel kereta api tanpa tenda, tanpa penerangan, dan tanpa makanan layak.

Bantuan darurat berupa susu, pampers, selimut, dan tenda langsung diberikan untuk memastikan pengungsi bisa bertahan di hari-hari awal bencana.

Secara keseluruhan, banjir dan longsor besar yang melanda Sumatera sejak akhir November 2025 telah menimbulkan kerusakan luar biasa. Ratusan meninggal, ratusan hilang, ribuan mengungsi, dan kehidupan masyarakat lumpuh total.

Ferry Irwandi berharap pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten bergerak lebih cepat memperbaiki bendungan jebol dan memulihkan infrastruktur agar jalur evakuasi serta distribusi bantuan dapat kembali normal.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita