AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati (BBN) karya anak bangsa, Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos), kini tengah bersiap memasuki tahap komersialisasi di Indonesia dan Timor Leste.
Namun, di tengah antusiasme publik terhadap bahan bakar ramah lingkungan ini, pihak manajemen Bobibos mengeluarkan peringatan keras terkait maraknya potensi penipuan yang mengatasnamakan produk mereka.
Melalui akun Instagram resminya, pihak Bobibos menegaskan bahwa hingga saat ini mereka belum melakukan penjualan produk bensin maupun solar kepada pihak manapun.
Penegasan ini muncul sebagai respons terhadap adanya oknum yang mengaku dapat menjual produk Bobibos secara bebas.
"Jika ada pihak yang mengaku bisa menjual Bobibos maka dipastikan itu penipuan! Kami sedang mengurus izin penjualan di pemerintah," tulis akun Instagram resmi Bobibos di Instastory yang diunggah pada Senin, 27 April 2026.
Proses Uji Laboratorium dan Sertifikasi Pemerintah
Langkah menuju pemasaran luas memang sedang dikebut. Saat ini, Bobibos tengah memasuki fase pengujian intensif di laboratorium Lembaga Minyak dan Gas (Lemigas) di bawah naungan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM.
Founder Bobibos, M. Ikhlas Thamrin, menjelaskan bahwa pengujian kali ini merupakan tahap kedua setelah sebelumnya dilakukan uji mandiri.
Tujuan utama dari uji laboratorium oleh pemerintah ini adalah untuk menentukan klasifikasi resmi produk, apakah masuk dalam kategori Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Bakar Nabati (BBN), atau Bahan Bakar Terbarukan.
Selain itu, pengujian ini sangat krusial untuk menyempurnakan syarat dan standar prosedur produksi massal serta distribusi agar aman digunakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Bobibos Dibandrol Harga Murah dan Ramah Lingkungan
Bobibos menarik perhatian besar karena kemampuannya mengolah limbah jerami menjadi bahan bakar berkualitas tinggi.
Berdasarkan hasil uji internal, bahan bakar ini diklaim memiliki kadar oktan (RON 98) yang setara dengan bensin kualitas premium.
Efisiensi produksinya pun cukup menjanjikan, di mana sekitar 3 kilogram jerami dapat menghasilkan satu liter bensin.
Selain aspek lingkungan, Bobibos diproyeksikan akan dijual dengan harga yang sangat kompetitif, yakni sekitar Rp7.000 per liter.
Inovasi ini dinilai mampu menjadi pilar energi mandiri bagi Indonesia di tengah tantangan krisis ekonomi global.
Masyarakat diimbau untuk tetap bersabar dan hanya memantau informasi perkembangan izin serta peluncuran resmi melalui kanal media sosial resmi Bobibos di Instagram dan TikTok.
Jangan mudah tergiur dengan tawaran bensin ilegal yang belum terverifikasi kualitas dan izinnya oleh pemerintah.***