AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar ramah lingkungan asal Indonesia, Bobibos, membawa kabar membanggakan dari Timor Leste.
Saat ini, Bobibos telah berhasil memulai produksi dalam skala pilot project di negara tersebut.
Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen melalui media sosial resmi mereka.
Salah satu warganet bertanya di kolom komentar, "Itu yang di Timor Leste apa sudah berjalan sukses?"
"Sudah produksi skala pilot project, tinggal menunggu jadwal Perdana Menteri Xanana Gusmao untuk launching, semoga segera," jawab akun Instagram resmi Bobibos.
Keberhasilan tahap awal ini menandakan bahwa teknologi pengolahan limbah menjadi energi ini siap diimplementasikan secara lebih luas.
Kini, fokus utama tim adalah mempersiapkan acara peluncuran resmi atau launching.
Jadwal peluncuran tersebut direncanakan akan berlangsung pada Mei 2026.
Pihak Bobibos saat ini sedang menunggu kepastian jadwal dari Perdana Menteri Xanana Gusmao untuk meresmikan operasional tersebut.
Setelah launching sukses dilakukan, tahap berikutnya adalah memulai produksi massal secara bertahap.
Kehadiran Bobibos menjadi oase di tengah krisis energi global yang turut berdampak pada Timor Leste.
Konflik internasional di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga bahan bakar fosil.
Rui Castro, Wakil Ketua Kamar Dagang Timor Leste, menyatakan bahwa masyarakat sangat mengharapkan adanya bahan bakar alternatif yang lebih murah.
Bobibos hadir sebagai solusi energi yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga rendah emisi.
Secara teknis, Bobibos merupakan bahan bakar nabati (BBN) yang unik karena berbahan dasar jerami.
Meskipun berasal dari limbah pertanian, kualitasnya tidak bisa dipandang sebelah mata.
Produk ini diklaim memiliki angka oktan tinggi, yaitu RON 98. Kualitas tersebut dianggap setara atau bahkan lebih baik daripada bahan bakar fosil yang ada saat ini.
Hal ini membuat Bobibos sangat potensial untuk mengurangi ketergantungan Timor Leste pada minyak impor.
Pemerintah Timor Leste telah memberikan dukungan penuh dalam hal infrastruktur.
Lokasi produksi di Hera dinyatakan sudah siap untuk beroperasi. Fasilitas seperti gudang penyimpanan telah tersedia dan tinggal mengatur tata letak untuk proses pemurnian atau refinery.
Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan lahan yang sangat luas mencapai 25.000 hektare.
Lahan ini telah diukur oleh berbagai instansi terkait, termasuk Kementerian Pertahanan dan Departemen Pertanahan setempat.
Perjalanan kerja sama ini telah dimulai sejak akhir tahun 2025. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan pada 23 Desember 2025.
Keesokan harinya, tepat pada 24 Desember 2025, kontrak kerja resmi ditandatangani untuk memulai persiapan produksi.
Kerja sama ini merupakan hasil inisiatif Rui Castro yang melihat potensi besar Bobibos saat berkunjung ke lokasi produksi di Indonesia.
Kini, semua persiapan telah matang dan hanya tinggal menunggu waktu untuk peluncuran besar di Bumi Loro Sae.***