AYOJAKARTA.COM - Bobibos siap membuat gebrakan di Timor Leste dengan melakukan launching bahan bakar ramah lingkungan dari bahan dasar jerami.
Saat ini, Bobibos telah berhasil memulai produksi dalam skala pilot project di negara tersebut.
Proyek ini hadir sebagai oase di tengah krisis energi global akibat konflik internasional di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga bahan bakar fosil.
Pihak manajemen Bobibos mengonfirmasi bahwa operasional awal di Bumi Loro Sae telah berjalan dengan lancar.
Fokus utama tim saat ini adalah mempersiapkan acara peluncuran resmi (launching) yang direncanakan berlangsung pada Mei 2026.
Peresmian ini sedang menunggu kepastian jadwal dari Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao.
Target Produksi Massal Bobibos
Bobibos menargetkan volume produksi yang fantastis di Timor Leste, yaitu sebesar 4 juta liter.
Setelah acara peluncuran sukses dilaksanakan, pihak manajemen akan langsung memulai produksi massal secara bertahap.
Langkah strategis ini bertujuan untuk menyediakan bahan bakar alternatif yang jauh lebih murah bagi masyarakat setempat.
Secara teknis, Bobibos merupakan bahan bakar nabati (BBN) yang sangat unik karena menggunakan jerami atau limbah pertanian sebagai bahan dasar utama.
Meskipun memanfaatkan limbah, kualitas bahan bakar ini tidak boleh dipandang sebelah mata.
Melalui proses pemurnian (refinery), Bobibos diklaim menghasilkan angka oktan tinggi, yaitu RON 98.
Kualitas tersebut dinilai setara atau bahkan lebih baik daripada bahan bakar fosil komersial.
Sebelum diedarkan secara luas kepada masyarakat, inovasi bahan bakar jerami ini wajib melewati uji teknis dan uji jalan di laboratorium independen, seperti Lemigas di Indonesia.
Pengujian ketat ini dilakukan untuk memastikan faktor keamanan serta performa optimalnya pada mesin kendaraan.
Dukungan Pemerintah Timor Leste
Kehadiran Bobibos mendapat sambutan hangat karena Timor Leste sangat membutuhkan bahan bakar alternatif yang terjangkau.
Wakil Ketua Kamar Dagang Timor Leste, Rui Castro, menyatakan bahwa masyarakat menaruh harapan besar pada proyek ini untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
Pemerintah Timor Leste pun memberikan dukungan penuh dalam penyediaan infrastruktur.
Lokasi produksi di Hera kini sudah siap beroperasi. Fasilitas gudang penyimpanan telah tersedia dan tim teknis tinggal mengatur tata letak (layout) untuk proses refinery.
Selain itu, pemerintah setempat telah menyiapkan lahan yang sangat luas mencapai 25.000 hektare yang sudah diukur oleh Kementerian Pertahanan serta Departemen Pertanahan.
Perjalanan kerja sama ini telah dirintis sejak akhir tahun lalu, dimulai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada 23 Desember 2025.
Sehari setelahnya, kontrak kerja resmi langsung ditandatangani untuk memulai persiapan produksi.
Kerja sama bilateral ini merupakan hasil inisiatif Rui Castro yang terpikat oleh potensi besar Bobibos saat berkunjung ke lokasi produksi di Indonesia.***