AYOJAKARTA.COM - Setela pasien terindikasi terjangkit virus Mpox ditemukan di Brebes, kabar mengejutkan datang dari Palembang, Sumatera Selatan.
Berdasarkan keterangan dari petugas kesehatan di Puskesmas Empat Ulu, seorang pasien dengan gejala virus Mpox berhasil ditemukan.
Menurut Gerry Arvin Taruna selaku Dokter Puskesmas Empat Ulu, pasien suspect virus Mpox sudah dalam penanganan petugas kesehatan dan menjalani isolasi.
Berbeda dengan gejala Mpox pada umumnya yang ditemukan di badan, benjolan atau lesi pasien suspect di Empat Ulu justru terdapat di bagian tangan.
“Lesinya itu umumnya pertama muncul dari tubuh dan menyebar, kemarin pasien kita itu lesinya banyak kita temukan ada di tangan,” ungkap Gery.
Selain di Brebes dan Palembang, pasien terduga terindikasi atau suspect virus Mpox juga ditemukan di Bandara Soekarno Hatta.
Guna memastikan kondisi dari terduga suspect virus Mpos, petugas kesehatan Bandara langsung melakukan pemeriksaan dengan hasil Negatif.
Menurut Naning Nugrahini selaku Kepala Balai Besar Karantina Kesehatan atau BBK Bandara Soetta, langkah pemeriksaan terus dilakukan untuk memastikan pencegahan.
Sehubungan dengan semakin meningkatnya temuan kasus terduga virus Mpox, Kabiro Komunikasi dan Pelmas Kemenkes memberi pernyataan.
Dalam keterangan resminya, Siti Nadia Tarmizi menyebut sudah menemukan sebanyak 20 kasus suspect virus Mpox dengan hasil negatif sebanyak 13.
Adapun tujuh spesimen sampel lainnya, sampai dengan saat ini masih terus dalam proses memastikan hasil temuan.
Berdasarkan pada temuan pasien terduga virus Mpox di sejumlah wilayah Indonesia, Kemenkes memastikan jumlah kasus terkonfirmasi masih berada di angka 88 sejak 2022.
Untuk melakukan percepatan penanganan, Kementerian Kesehatan telah menyediakan sebanyak 12 laboratorium yang tersebar di sejumlah wilayah.
Karena itu, beberapa wilayah perlu melakukan koordinasi terkait dengan kebutuhan pemeriksaan sampel dengan wilayah lain.
“Memang tidak semua di 38 provinsi, jadi memang ada beberapa provinsi yang harus mengirim hasil swab untuk memastikan Mpox atau tidak,” ungkap Nadia.
Terkait dengan jenis varian virus Mpox yang banyak terjadi di Indonesia, Nadia menyebut lebih didominasi oleh Clade 1B.
Lebih lanjut, Nadia menambahkan varian virus Clade 2B menjadi kekhawatiran WHO karena sudah banyak menjangkit anak-anak di Kongo, Afrika.
“Clade 2B tingkat fatalitasnya itu antara 5 sampai 10 persen, sementara Clade 1B yang kita temukan di Indonesia gejalanya lebih ringan,” imbuh Nadia.
Adapun persentase fatalitas atau tingkat kerusakan akibat varian virus Mpox Clade 1B kurang dari 1 persen, sehingga hanya perlu isolasi selama dua pekan.