AYOJAKARTA.COM - Tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall kembali menjadi sorotan publik setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan rencananya untuk membangun mega proyek ini di pesisir utara Jawa.
Proyek ini akan membentang sepanjang 500 kilometer dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur, dengan estimasi anggaran mencapai US\$ 80 miliar atau sekitar Rp 1.280 triliun (kurs Rp 16.000 per dolar AS).
Meski terdengar baru, ide pembangunan Giant Sea Wall sudah diusulkan sejak lama. Sejak era Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (2007–2012), muncul rancangan bernama Jakarta Coastal Defense System (JCDS).
Baca Juga: Rating Drama Korea Pekan Pertama Juni 2025, Good Boy dan Our Unwritten Seoul Pecah Rekor!
Inisiatif ini merupakan respons atas banjir rob parah yang terjadi pada 2007. Proyek ini melibatkan pemerintah pusat dan dukungan konsorsium dari Belanda melalui Partners voor Water.
JCDS menjadi cikal bakal strategi pertahanan pesisir yang kemudian disahkan dalam Perda DKI Jakarta No. 1 Tahun 2012 tentang RTRW 2030.
Dalam skala nasional, rencana ini berkembang menjadi National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).
Proyek NCICD bertujuan memperluas tanggul menjadi bentuk burung garuda, yang dijuluki Garuda Megah. Namun, baik JCDS maupun NCICD sama-sama membutuhkan dana besar.
Baca Juga: Jakarta E-Prix 2025 Siap Digelar 21 Juni 2025, Berapa Harga Tiketnya?
Tahapan JCDS memakan biaya US\$ 3,63 miliar (tahap 1), US\$ 10,12 miliar (tahap 2), dan US\$ 12,11 miliar (tahap 3). Sementara NCICD tahap A dan B diperkirakan menelan US\$ 40 miliar.
Presiden Prabowo menyatakan bahwa gagasan pembangunan tanggul ini sudah masuk dalam rencana Bappenas sejak 1995, pada masa Presiden Soeharto.
Bahkan, Hashim Djojohadikusumo menyebut perancangannya dimulai sejak 1994 karena sudah ada kekhawatiran akan kenaikan permukaan laut.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga menyatakan dukungannya. Jakarta kebagian pembangunan sepanjang 19 kilometer dan telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 5 triliun per tahun.
Ia menyebut dana itu bisa bersumber dari berbagai sektor, termasuk pengelolaan sampah menjadi energi listrik.
Dengan latar belakang sejarah panjang dan kebutuhan dana luar biasa besar, Giant Sea Wall menjadi proyek ambisius yang tidak hanya penting bagi Jakarta, tetapi juga bagi ketahanan pesisir utara Pulau Jawa dalam menghadapi ancaman perubahan iklim di masa depan.***