AYOJAKARTA.COM – Mendekati pelaksanaan Pilkada, campur tangan atau cawe-cawe yang dilakukan oleh Presiden Jokowi makin menjadi sorotan.
Adanya perubahan regulasi terkait batas usia peserta Pilkada sebagaimana sempat terjadi saat Pilpres, oleh sebagian kalangan dinilai sebagai indikasi cawe-cawe Presiden Jokowi.
Sehubungan dengan adanya anggapan cawe-cawe dalam pelaksanaan Pilkada, kepada awak media Presiden Jokowi sempat memberi sanggahan.
Saat dimintai tanggapan, Jokowi menyebut persoalan pemilihan merupakan ranah Ketua Partai Politik sehingga anggapan cawe-cawe tidak perlu dipertanyakan ke Presiden.
“Urusan mencalonkan itu juga urusan partai politik, saya bukan Ketua Partai, saya bukan pemilik partai,” tegas Presiden.
Terkait wacana cawe-cawe di pelaksanaan Pilkada serentak pada November mendatang, jabatan Presiden dijadwalkan sudah beralih ke Prabowo Subianto.
Menyikapi peluang masih ada atau tidaknya dominasi kekuasaan Jokowi tersebut, Pengamat Politik Ahmad Khoirul Umam memberi tanggapan.
Baca Juga: Ahli Hukum Pidana Agus Surono Jelaskan Soal Akun Facebook dalam Sidang Praperadilan Pegi Setiawan
Menurut Umam, jaring pengaruh dan kekuasaan tidak secara otomatis berhenti usai seorang Pemimpin berhenti menjabat.
“Inilah yang kemudian yang menjadi pertanyaan publik, apakah Pak Jokowi berniat memiliki hajat politik untuk memenangkan,” ungkap Umam.
Menilai dari bahasa dan gaya serta pola politik yang sering dilakukan Jokowi, Umam menilai potensi untuk melanggengkan kekuasaan dan pengaruh bisa saja terjadi.
Baca Juga: Inara Rusli Ogah Rujuk dengan Virgoun Meski Eva Manurung yang Minta, Mommy Starla: Aku Sih Enggak
Upaya membuka jalur politik terhadap penerusnya melalui regulasi, menurut pandangan Umam merupakan salah satu indikasi untuk dipahami secara politik.
Terkait dengan pernyataan tidak terlibat yang telah disampaikan Presiden Jokowi, sejumlah petinggi partai memberikan tanggapan.
Menurut Mardani Ali Sera yang merupakan Ketua DPP PKS, untuk dapat mencermati pernyataan Jokowi perlu melihat melalui rekam jejak.
Terbukanya akses untuk berpolitik bagi Gibran dalam Pilpres melalui MK serta Kaesang dalam Pilkada melalui MA, menurut Mardani adalah indikasi jawaban.
“Jadi kalau melihat, ini adalah fakta politik sehingga ruangnya sudah ada, tinggal bagaimana partai politik,” ungkap Mardani.
Mardani menambahkan, dalam sistem bernegara yang berlaku di Indonesia partai politik memiliki kekuatan besar sehingga tidak perlu kuatir dengan Jokowi.
Sehubungan dengan pernyataan tidak terlibat cawe-cawe dalam pelaksanaan Pilkada, Politisi PDIP Adian Napitupulu memberi tanggapan.
Menurut Adian yang juga merupakan Ketua Tim Pemenangan Pilkada PDIP, masyarakat sudah mengenal bagaimana sebenarnya sosok Jokowi.
Baca Juga: Waduh! Inilah Jurusan Kuliah yang Berpotensi Hilang di Masa Depan
Dalam sejumlah pemilihan, Adian menilai pernyataan yang kerap disampaikan oleh Jokowi cenderung berlawanan dengan tindakan.
“Dia sikapnya berbeda dengan kata-katanya, tetapi sudahlah, kita tidak mau menghabiskan usia kita untuk ngomongin Jokowi toh?,” tegas Adian.