Nasional

Budayawan Eros Djarot Sebut Gibran Hanyalah "Boneka" Politik, Siapa Dalangnya?

Oleh: Francisca Wuri Sulistyowati,ST Senin 29 Jan 2024, 15:32 WIB
udayawan Eros Djarot Sebut Gibran Hanyalah "Boneka" Politik, Siapa Dalangnya?


AYOJAKARTA.COM - Dalam sebuah wawancara dengan Abraham Samad, budayawan Eros Djarot secara terbuka mengecam keputusan Jokowi yang dianggapnya tega menyodorkan anaknya, Gibran Rakabuming sebagai wakil presiden.

Djarot dengan lugas menyebut Gibran sebagai "wayang" atau boneka, sementara yang dianggap lebih penting adalah siapa dalang di baliknya.

"Saya tempatkan Gibran itu wayang atau boneka ya. Yang pentingkan dalangnya siapa. Saya harus jujur dan nggak apa-apa nih orang mau dengerin, bagaimana penilainya terserah," ungkap Djarot dengan nada kritis.

Baca Juga: Eros Djarot: Seandainya Jokowi Tidak 'Sodorkan' Gibran, Dia Akan Dicatat Tinta Emas, Sekarang Dicatat di Daun Kelor Pun Tidak

Dalam pernyataannya, Djarot menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar politik, tetapi mencerminkan keadaan peradaban.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan pemimpin yang memahami dengan baik keadaan negara dan bukan pemimpin yang mau merusak peradaban dengan keputusan kontroversial.

"Sekarang ini bukan masalah politik lagi yang dirusak itu peradaban. Kita kan ingin dipimpin oleh seseorang yang paham betul. Indonesia itu maunya seperti apa sih, kan bukan yang seperti sekarang," tandasnya dikutip dari channel Youtube Abraham Samad Speak Up yang tayang Senin, 29 Januari 2024.

Djarot juga mencatat bahwa jika Jokowi memilih figur lain seperti RK atau Erick Thohir, ia tidak akan memberikan komentar. Namun, pemilihan Gibran sebagai calon wakil presiden membuatnya merasa terdorong untuk bersuara.

"Dibukakan seluruh rakyat Indonesia di perdebatan kemarin. Dibuka bagaimana. Namanya adab di sana bisa kita banyak belajar beradab tidak nih. Adab itu kan dari adat, beradat enggak ini orang gitu kan," ungkap Djarot dengan nada prihatin.

Djarot menekankan bahwa sikap Jokowi dalam memilih Gibran sebagai calon wakil presiden telah membawa isu politik ke ranah budaya.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Beasiswa Bagi Mahasiswa Baru 2024 KIP Kuliah, GenBI hingga JFL, Dibuka hingga Agustus!

Ia menilai bahwa tindakan tersebut mencerminkan kurangnya sopan santun dan adab dalam berpolitik.

"Sekarang ini sudahlah jangan terlalu mempersoalkan Gibran, kita soalkan Pak Jokowi. Kenapa kok tega amat sih Pak Jokowi sama anaknya memberi tugas yang begitu luar biasa atau karena Jokowi sudah nggak bisa lagi ya tiga periode maka jadi joki dia," tegasnya.

Eros Djarot juga menyampaikan keprihatinannya terhadap Gibran yang dianggapnya sebagai korban dari keputusan kontroversial tersebut.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak terlalu menyalahkan Gibran, melainkan mempertanyakan tindakan Jokowi yang dianggapnya tidak mempertimbangkan masa depan Indonesia dengan baik.

"Saya tidak punya alasan sentimen kepada Jokowi, secara pribadi pernah nyakitin saya enggak, apa pernah nyelakain saya enggak, saya baik-baik aja sama dia tapi begitu dia menyandra Indonesia, sebentar dulu is getting too far," ungkap Djarot.

Dalam penutup pernyataannya, Djarot mempertanyakan apakah Jokowi benar-benar mencintai Indonesia dan rakyatnya, ataukah cintanya hanya terfokus pada kekuasaan dan warisan dirinya sendiri.

Ia menekankan pentingnya membangun "Legacy Indonesia" daripada "legacy Jokowi".

"Saya enggak mau menjelek-jelekkan Gibran. Buat saya dia dia mau disuruh aja gitu sudah anak yang berbakti pada orang tuanya. Berbakti pada orang tuanya tapi mencelakakan Indonesia, kan dia enggak tahu," tutup Eros Djarot dengan nada keprihatinan.***

Reporter Francisca Wuri Sulistyowati,ST
Editor Jinan Vania Barizky