AYOJAKARTA.COM - Meski waktu pencoblosan pilpres belum dilakukan, namun Alvin Lim mengaku sudah mengetahui pengganti Jokowi sebagai Presiden.
Berbanding terbalik dengan di Amerika yang hasil pemilunya diketahui pasca pemungutan suara, menurut Alvin Lim pemilu di Indonesia justru sudah diketahui sebelum waktunya.
Dukungan dari kaum konglomerat atau pengusaha terhadap paslon, menurut Alvin Lim merupakan salah satu indikasi potensi kemenangan tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Alvin ketika menjadi narasumber di kanal YouTube Quotient TV baru-baru ini.
“Jadi semacam rahasia umum bahwa di Indonesia itu sudah tahu siapa yang menang, dalam tanda kutip sudah ada perencanaan-lah,” ungkap Alvin.
Para pengusaha dan konglomerat besar di Indonesia yang banyak disebut sebagai kekuatan lain di luar parlemen, menurut Alvin sering dikenal dengan istilah Sembilan Naga.
Dengan kekuatan finansial dan pendanaan yang besar tersebut, Alvin menduga kontestasi pilpres merupakan satu hal yang bisa diprediksi.
“Ada konspirasi lah bahwa di belakang presiden itu yang mengendalikan 9 Naga, kemana uang mereka pergi itulah yang bakal menang,” imbuh Alvin.
Lebih lanjut Alvin menceritakan, dalam beberapa pekan ia sempat bertemu dengan para pengusaha tersebut sehingga bisa mengetahui hasil pilpres 2024 mendatang.
Kendati hasil pemilu tersebut sudah bisa diprediksi, namun Alvin tetap meminta agar masyarakat tetap menggunakan hak pilihnya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
Terkait dengan kaidah hukum yang mengikat di ajang pesta demokrasi, Alvin secara khusus mengapresiasi cawapres nomor urut tiga Mahfud MD.
Harapan masyarakat Indonesia tentang kedaulatan hukum, menurut Alvin sangat bersentuhan dan sesuai dengan sepak terjang Mahfud MD.
Pengalaman Mahfud MD di bidang hukum dan lembaga-lembaga tinggi negara, menurut Alvin merupakan modal penting dalam mereformasi hukum di Indonesia.
Namun Alvin menilai ada kekurangan besar pada sosok Mahfud MD yang merupakan sebuah perkara ironi di masyarakat.
“Mahfud itu ilmu hukumnya tinggi, tapi dalam menjalankan tugas; mohon maaf, tidak ada hati untuk masyarakat,” ungkap Alvin.
Salah satu indikasi kurangnya rasa kepekaan sosial Mahfud MD terhadap masyarakat adalah adanya perbedaan perlakuan.
Kedatangan para Petisi 100 ke kantor Menko Polhukam yang diterima dengan terbuka dengan membawa ide pemakzulan Presiden, menurut Alvin sangat disayangkan.
Sebab perlakuan berbeda justru ditunjukkan Mahfud saat dimintai bantuan para korban investasi bodong untuk ikut berbuat bagi masyarakat.
“Hatinya untuk masyarakat itu nol,” ungkap Alvin dikutip Ayojakarta, Minggu 28 Januari 2024 dari Quotient TV. ***