Nasional

Timnas AMIN Sentil Balik Luhut dan Bahlil yang Respons Tom Lembong Soal Nikel: Tidak Perlu Semasif Itu

Oleh: Nisrina Harum Lestari Jumat 26 Jan 2024, 15:36 WIB
Sekretaris Dewan Pakar Timnas AMIN yakni Wijayanto Samirin menilai bahwa pernyataan yang disampaikan Luhut dan Bahlil terlalu berlebihan.

AYOJAKARTA.COM – Timnas Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia tentang nikel yang disampaikan oleh Co-Captain Timnas AMIN Thomas Lembong.

Sekretaris Dewan Pakar Timnas AMIN yakni Wijayanto Samirin menilai bahwa pernyataan yang disampaikan Luhut dan Bahlil terlalu berlebihan.

Wijayanto Samirin mengatakan seharusnya Luhut dan Bahlil cukup merespon pernyataan Tom Lembong secara substansi.

“Saya rasa apa yang dilakukan oleh Pak Luhut dan Pak Bahlil itu overshooting. Seharusnya tidak perlu direspon semasif itu. Cukup direspon secara substansi,” kata Wijayanto dikutip dari kanal YouTube Metro TV, Jumat, 26 Januari 2024.

“Misalnya kritik Pak Tom terkait dengan produksi kita yang over sehingga harganya turun. Memang faktanya begitu hampir 100 persen kenaikan produksi nikel dari tahun 2015-2022 itu kontribusi dari peningkatan produksi di Indonesia. Akhirnya yang terjadi sekarang adalah oversupply jadi harganya jatuh,” sambungnya.

Dalam pernyataan yang disampaikan Luhut, Menko Marves itu mengklaim bahwa program hilirisasi mengurangi kemiskinan di Morowali.

Baca Juga: Nyamuk Wolbachia Diklaim Ampuh Turunkan Demam Berdarah, Kemenkes Libatkan 25 Peneliti

Luhut menuturkan di tahun 2015 tingkat kemiskinan di Morowali sebesar 15,8 persen dan pada tahun 2023 sebesar 12,3 persen.

Kemudian tahun 2015 di Sulawesi Tengah sebesar 14.7 persen dan tahun 2023 turun menjadi 12,4 persen.

Wijayanto menjelaskan harga komoditi sempat melejit karena proses produksi yang terhenti akibat pandemi covid.

Ia menilai yang saat ini terjadi adalah keseimbangan antara supply dan demand mengalami ketimpangan.

Menurutnya ini dipicu karena penambangan yang terlalu masif di Indonesia.

Baca Juga: Periode Salur Bansos PKH dan BPNT di Aplikasi SIKS-NG Berubah Hari Ini, Pertanda Akan Dicairkan?

“Memang gara-gara covid, pasca covid, hampir seluruh komoditi itu harganya melejit karena proses produksi terhenti saat covid kemudian demand recover supply terbatas harga naik. Kemudian kembali ke normal. Terkait dengan nikel ini situasinya agak berbeda,” jelasnya.

“Normalnya nikel itu dibawah normalnya komoditi yang lain. Kalau kita lihat keseimbangan supply dan demand sekarang timpang. Lebih banyak supply-nya daripada demand-nya. Ini gara-gara penambangan yang terlalu masif di Indonesia. Jadi sebagai negara yang menguasai hampir 50 persen produksi nikel seharusnya Indonesia berpikir strategis, tidak aji mumpung,” tutupnya.

Reporter Nisrina Harum Lestari
Editor Aris Abdulsalam