AYOJAKARTA.COM – Salah satu program yang menjadi sorotan ialah food estate yang disebut gagal oleh sejumlah pihak.
Dalam debat cawapres kedua, kegagalan dari food estate pun banyak dibahas.
Lebih lanjut, salah satu cawapres di Pilrpes 2024, Mahfud MD ikut menyinggung kembali atas program ini di akun X pribadinya.
Mahfud MD menyebutkan bahwa anah di Gunung Mas itu bergambut sehingga tak mungkin jagung bisa tumbuh, seperti dikutip ayojakarta.com dari YouTube KompasTV.
Baca Juga: HORE! Bansos PKH dan BPNT Tahap 1 Bakal Cair 10 Februari 2024? Simak Dulu Penjelasannya
Pada debat cawapres kedua hari Minggu 21 Januari 2024 lalu, Mahfud MD berkomentar kalau food estate itu gagal dan merusak lingkungan.
Karena hutan alam di Gunung Mas Kalimantan Tengah dibabat lalu ditanami jagung menggunakan kantong.
Penyebab jagung ditanami dalam kantong tersebut adalah tanah di daerah Gunung Mas Kalimantan Tengah bergambut.
Tanah yang bergambut tak bisa menumbuhkan tanaman jagung. Makanya digunakanlah kantong.
“Eh ternyata jagungnyapun ditanam dgn goody bag sebab di tanah bergambut Gunung Mas tak mungkin tumbuh jagung,” ujar Mahfud MD dalam cuitannya di X @mohmahfudmd.
Maksud goody bag adalah polybag. Polybag memang biasa digunakan sebagai media untuk menanam selain dengan pot.
Mahfud MD juga berpendapat jika menanam banyak singkong tapi untuk panen jagung adalah hal yang ajaib.
“Indonesia hebat spt Kolam Susu. Lah, menanam jutaan hektar singkong utk food estate yg tumbuh jagung. Menanam singkong, panen jagung. Ajaib. Itu terjadi di Gunung Mas.” ujar Mahfud MD lagi di X @mohmahfudmd.
Sedangkan menurut tayangan di YouTube KOMPAS TV, food estate dimulai bahkan saat analisis dampak lingkungan belum selesai.
Baca Juga: Cerita David Ozora Bertemu Almarhum Gus Dur di Mimpi: Jangan Ikut Saya Kamu ke Sana Saja
“Nah yang terjadi di Gunung Mas, itu dilaksanakan ketika amdal (analisis dampak lingkungan) masih dibuat,” ujar Sekar Banjaran Aji, Juru Kampanye Hutan Greenpeace, dikutip AyoJakarta.com dari YouTube KOMPAS TV.
Juru kampanye Hutan Greenpeace, Sekar Banjaran Aji, menyebutkan kalau pada awalnya di food estate tersebut awalnya ditanam singkong, tapi karena gagal panen, diganti jagung.
“Itu gagal panen. Singkongnya kecil. Karena singkongnya kecil dan tidak bisa dipanen, akhirnya diganti dengan jagung,” jelasnya.
Namun penggantian jagung tersebut juga tidak berjalan dengan baik. Jagung dalam polybag tidak tumbuh dengan baik dan tanpa polybag lebih mengkhawatirkan keadaannya.
“Dan diganti dengan jagung pun, baru kemarin bulan Desember saya ke sana, itu benar-benar menggunakan polybag, itu masih diuji coba. Jadi, dan itu tidak terlihat seakan-akan jagung itu tumbuh subur gitu. Yang di luar polybag itu mereka (jagungnya) cukup mengkhawatirkan,” jelasnya lagi.***