AYOJAKARTA.COM – Roy Suryo tengah menjadi perbincangan publik usai kritik berikan kritikan terhadap cawapres nomor urut 2.
Roy Suryo mengkritisi penggunaan 3 mic yang dipakai oleh Gibran Rakabuming Raka saat debat cawapres Pilpres 2024.
Sebelumnya, Helmi Yahya dan salah seorang praktisi televisi menjelaskan 3 mic yang dipakai oleh cawapres nomor urut 2, merupakan alat yang wajar digunakan di dunia pertelevisian dan penyiaran.
Terbaru, pakar telematika Abimanyu juga turut mengomentari viralnya pernyataan Roy Suryo soal adanya kemungkinan kecurangan yang dilakukan oleh Gibran saat menggunakan 3 mic saat sesi debat.
Melalui akun TikTok-nya @abwatch, dia menjelaskan hal yang dipermasalahkan oleh Roy Suryo saat mengkritisi 3 mic yang dipakai Gibran.
“Di acara tersebut yang dipermasalahkan adalah mengenai adanya mikrofon kenapa ada banyak, ada yang katanya handsfree, kemudian ada yang clip on, dan bahkan ada yang wireless handheld microphone itu yang di meja,” ungkapnya, dikutip AyoJakarta.com pada Sabtu, 30 Desember 2023.
Menurutnya, bagi orang yang mengerti dan memahami teknologi elektronik, showbiz, live show, dan mengerti pentingnya suatu acara, maka akan paham kondisi di mana suatu saat perangkat elektronik akan bermasalah.
Maka dari itu Abimanyu mengungkapkan bahwa pentingnya backup, termasuk backup langsung atau secara live hingga backup yang sifatnya ada jeda.
Baca Juga: Cak Imin dan Mahfud MD Sibuk Kampanye ke Daerah, Gibran Masih Harus Bereskan Tugas sebagai Walikota
“Mic yang digunakan para kandidat (cawapres) itu adalah mic yang paling umum, karena apa? Itu sifatnya handsfree, jadi kalau dipasang di sini (telinga) sifatnya handsfree itu karena dia tidak dipegang di tangan,” ungkapnya.
“Jadi ada yang namanya ear mounted atau nyantol di kuping atau orang bilang itu head mounted tapi bukan headset. Jadi kalau sesuatu yang namanya headset itu sudah seharusnya lengkap ada microphone dan ada ear plug-nya,” sambungnya.
Abimanyu menegaskan bahwa dalam video yang ditayangkan saat debat cawapres, tidak ada ear plug yang masuk ke telinga. Sehingga menurutnya hanya untuk komunikasi satu arah saja yaitu untuk mikrofon saja.
Hal yang dipermasalahkan kedua oleh Roy Suryo adalah soal jack yang kelihatan ada tiga koneksi terminal.
“Yang satu memang untuk mikrofon, yang satu untuk speaker dan yang satu itu adalah yang namanya komunikasi selalu harus selalu ada negatifnya untuk berbalik,” ungkap Abimanyu.
“Nah kalau lihat bahwa itu ada tiga misalnya bukan berarti yang di kuping juga harus aktif, jadi kalau di jack nya itu ada tiga ya itu bisa aja yang digunakan hanya untuk mikrofon, sedangkan yang untuk kuping tidak ada, ya kalau tidak ada di kupingnya ya tidak ada suara masuk apa-apa walau jack-nya seperti itu,” sambungnya.
Pakar telekomunikasi ini juga menyampaikan hal lain yang dipermasalahkan oleh Roy Suryo yakni soal sudah adanya transmiter yang wireless.
Menurutnya soal itu sudah lama ada transmiter wireless yang dipakai di telinga yang membutuhkan perangkat receiver dan transmiternya serta tidak perlu dari koneksi yang sama.
“Kalau orang mau jahil dalam konteksnya adalah mau diam-diam memberikan suara di situ nggak akan menggunakan jack yang kayak gini, pikir deh,” kata Abimanyu.***