AYOJAKARTA.COM – Dalam forum Diskusi dan Kalibrasi, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar menyinggung kegagalan pemerintah.
Selain menyinggung sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai gagal, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar juga menawarkan gagasan perubahan.
Mengawali orasinya, cawapres Muhaimin Iskandar memaparkan sejumlah pandangan politik sebelum ditutup oleh capres Anies Baswedan.
Acara yang berlangsung pada 24 Desember 2023 di Semarang tersebut, menghadirkan sejumlah petinggi partai Koalisi Perubahan dan panelis antara lain Rocky Gerung.
Baca Juga: Anies Baswedan Luruskan soal Bangun 40 Kota Setara Jakarta: Bukan dari Nol seperti IKN
Kata 'slepet' yang menjadi salah satu jargon dalam menciptakan perubahan, menurut Cak Imin merupakan bentuk halus untuk menggantikan kata revolusi mental.
“Pada dasarnya yang lebih tepat dari slepet itu revolusi sebenarnya, karena itu saya gunakan istilah slepet,” jelas Cak Imin saat mengawali orasi, dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, Senin, 25 Desember 2023.
Sejalan dengan perkembangan dan dinamika politik, Cak Imin menilai telah terjadi banyak pergeseran sehingga perlu dilakukan perubahan.
Salah satu hal paling mendominasi dan menjadi akar persoalan bangsa Indonesia, menurut Cak Imin adalah pembuat regulasi yang merangkap pebisnis.
“Pemain bisnis merangkap pembuat aturan menjadi penyebab rumitnya keadaan ini, ini yang harus kita slepet,” ungkap Cak Imin.
Adanya hegemoni terkait aspek ekonomi dan regulasi yang dikuasai segelintir pebisnis, menurut Cak Imin menyebabkan potensi rakyat terhambat.
Karenanya, Cak Imin menegaskan pentingnya mengubah aspek kekuasaan menjadi aspek pemerataan yang berkeadilan.
“Banyak hal yang terjadi dan semuanya hanya slogan dan slogan, tidak ada pilihan kita hadirkan perubahan,” imbuh Cak Imin.
Sementara itu, capres Anies Baswedan dalam orasinya sempat menyinggung sejumlah permasalahan yang tidak mengena ke akar permasalahan.
Gagasan perubahan, menurut Anies dilakukan secara berkesinambungan sehingga bukan saja menyangkut aspek makro dan mengabaikan aspek mikro.
Salah satu pondasi dasar dalam melakukan perubahan yang bertaraf kebangsaan, menurut Anies diawali dengan melakukan perubahan di tingkat individu manusia.
“Mengembalikan fokus pembangunan kita pada manusia, dan terlihat pada kehidupan keluarga-keluarga,” jelas Anies.
Salah satu hal terbaik dalam menjadi bagian dari perubahan, menurut Anies bukan saja tercermin melalui data baik angka ataupun statistika.
Akan tetapi, dampak langsung dari sebuah perubahan dapat tercermin melalui kesadaran pribadi dan keluarga sebagai bagian dari sebuah negara dan bangsa.
“Kita menginginkan bahwa rakyat Indonesia, keluarga-keluarga bisa mengatakan; untung kami menjadi rakyat Indonesia,” tegas Anies.***