Nasional

Indonesia Negara Sasaran Penyebaran Nyamuk Wolbachia, Siti Fadilah: Kita Jadi Bahan Penelitian Lagi!

Oleh: Karseno AJ Jumat 17 Nov 2023, 19:40 WIB
Ilustrasi nyamuk Wolbachia.

AYOJAKARTA.COM -- Guna mengantisipasi lonjakan kasus DBD, sejak awal September 2023, sejumlah wilayah di Indonesia melakukan penyebaran nyamuk Wolbachia.

Pada bulan tersebut selain dilakukan di Jakarta Barat dan Jawa Tengah, penyebaran nyamuk Wolbachia juga dilakukan di Bandung, Jawa Barat.

Sementara pada bulan November 2023 ini, kawasan Bali direncanakan akan menjadi lokasi penyebaran nyamuk Wolbachia.

Baca Juga: Mengungkap Kepribadian Seseorang dari Bentuk Kaki, Cari Tahu Kamu Sosok Karismatik atau yang Sulit Dibujuk?

Menyikapi rencana penyebaran nyamuk Wolbachia tersebut, sejumlah kalangan dan masyarakat Bali menyatakan keberatan.

Warga mengkhawatirkan, penyebaran nyamuk Wolbachia di Bali akan dapat mengganggu sektor pariwisata serta berimbas pada ekonomi.

Menurut mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, penyebaran nyamuk Wolbachia pada dasarnya merupakan salah satu program pemerintahan dunia.

Melalui World Mosquito Program, sebanyak 11 negara di sejumlah benua akan dijadikan sebagai lokasi penyebaran nyamuk Wolbachia, termasuk Indonesia.

Nyamuk Wolbachia sendiri, merupakan hasil rekayasa genetika yang dilakukan terhadap nyamuk Aedes Aegypti dengan menyuntikkan Wolbachia.

Baca Juga: Kejaksaan Agung Buka Suara Soal Rencana Pengajuan PK Jessica Wongso Minggu Depan: Itu Sudah Biasa

“Tahun 2011 dulu ada seorang filantropis yang sangat terkenal di dunia, bertamu ke Jogja dan dia berburu nyamuk,” ungkap Siti dalam sebuah wawancara.

Menurut Siti, program tersebut sudah melalui sejumlah tahapan riset dan penelitian ahli dunia bersama dengan ahli dari Universitas Gajah Mada.

“Ahli UGM bersama dari luar mengatakan bahwa nyamuk yang direkayasa genetika, terbukti bisa menurunkan 77 persen angka kesakitan DBD,” jelas Siti.

Karena dampaknya yang cukup signifikan, Siti menyebut program tersebut mendapat persetujuan dari organisasi kesehatan dunia atau WHO.

Namun demikian, Siti yang semula memuji pencapaian tersebut justru mempertanyakan hasil riset setelah berdiskusi dengan ahli nyamuk.

Baca Juga: Terkuak Sebab Pencairan KJP Plus November 2023 Telat, Disdik Temukan Data 75 Ribu Siswa Tak Layak sebagai Penerima, Cek Datamu

“Mereka tidak terima dengan penyebaran nyamuk tersebut, ahli lingkungan, ahli molekuler Biologi, ahli virus dan ahli nyamuk; itu protes kepada saya,” ungkap Siti.

Kendati sudah tidak menjabat sebagai menteri, namun sejumlah ahli kesehatan Indonesia masih menjadikan Siti sebagai tempat curhat.

Menurut para ahli dari berbagai disiplin ilmu yang mendatangi Siti, program genetika memiliki dampak yang luar biasa bagi sistem ekologi.

“Tuhan itu menciptakan segalanya seimbang, kenapa sekarang nyamuk Aedes Aegypti itu akan dimusnahkan?” ujar Siti meniru keluhan para ahli.

Para ahli menambahkan, dengan adanya penyebaran nyamuk Wolbachia, maka berpotensi besar akan merusak kelestarian nyamuk Aedes Aegypti.

Baca Juga: Momen Rosi Silalahi Buka Kartu AS Binsar Gultom saat Wawancara, Sebut Jessica Wongso Bisa Dihukum Meski Tanpa Saksi

Dengan mengintervensi atau melakukan penekanan populasi secara ekstrem, para ahli Indonesia kuatir hal itu akan berdampak luas pada lingkungan di kemudian hari.

“Lagi-lagi kita menjadi bahan penelitian,” pungkasnya seperti dikutip Ayojakarta pada Jumat, 18 November 2023 dari kanal Youtube kjs tv.***

Reporter Karseno AJ
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil