AYOJAKARTA.COM - Belum lama ini Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengingatkan pasangan capres-cawapres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar atau Cak Imin untuk hati-hati tentang 'Amien Rais Syndrome'.
Pernyataan tersebut muncul setelah memperhatikan perolehan hasil survei elektabilitas Anies Baswedan-Cak Imin yang selalu berada di urutan paling bontot dibandingkan pasangan capres-cawapres lainnya.
Mardani Ali menilai, meski elektabilitas rendah, hal itu tidak sebanding dengan antusiasme masyarakat dalam sejumlah kegiatan yang digelar Anies Baswedan-Cak Imin.
Baca Juga: Optimis Menang, Anies Baswedan Tawarkan Warga Sumatera Barat Perubahan Bukan Keberlanjutan
Dilansir AyoJakarta.com dari suara.com pada Kamis (2/11/2023), Mardani Ali mengatakan istilah adanya Amien Rais Syndrome ini sebelumnya disampaikan oleh analis politik dan juga Direktur Political Marketing Consulting (PolMark), Eep Saefulloh Fatah.
Menurut Mardani, Eep Saefulloh memberikan keterangan mengenai 'Amien Rais Syndrome' tersebut yang bisa memunculkan ancaman bagi pasangan Anies Baswedan-Cak Imin.
"Saya agak terkesan dengan Mas Eep Saefulloh Fatah saat bilang hati-hati, ada Amien Rais syndrome pada Mas Anies," ujar Mardani.
Dijelaskan Mardani, ungkapan terkait 'Amien Rais Syndrome' ini merujuk terhadap fenomena elektoral Amien Rais pada Pilpres tahun 2004 silam.
Kala itu, Amien Rais merupakan salah satu tokoh gerakan politik tahun '98-an yang sangat populer di masyarakat.
Hampir sama dengan yang dialami oleh Anies Baswedan-Cak Imin, setiap acara yang digelar Amien Rais selalu ramai dihadiri masyarakat.
Baca Juga: Nasdem Rilis 4 Perubahan Paradigma di Visi Misi Anies Baswedan dan Cak Imin, Apa Saja?
Namun, popularitas Amien Rais tersebut berbanding terbalik dengan perolehan suara pada Pilpres 2004.
Saat itu, Amien Rair hanya mendapat suara 14,66 persen dan menempati posisi keempat dari total 5 kandidat di Pilpres 2004.
Nah, angka tersebut jauh dibandingkan perolehan dari Surilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kala itu mendapat 33,57 persen suara, Megawati Soekarnoputri 26,61 persen, dan Wiranto 22,15 persen.
"Ketika reformasi Pak Amien itu sangat melambung, yang hadir penuh tapi saat pemilu cuma dapet 2004, cuma dapat 14 persen," jelas Mardani.
Dikatakan Mardani, fenomena tersebut besar kemungkinan juga dapat dialami oleh pasangan Anies BAswedan-Cak Imin.
Baca Juga: 6 Janji Anies Baswedan dan Cak Imin untuk Perekonomian, Bisa Terwujud Jika Menang?
Hal itu dilihat dari setiap acara yang digelar Anies Baswedan-Cak Imin yang selalu ramai, namun popularitas elektabilitas keduanya selalu paling rendah.
Seperti, dari hasil survei Indikator pada 26 Oktober 2023 lalu, elektabilitas Anies Baswedan-Cak Imin berada di angka 23 persen.
Angka tersebut di bawah pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang mendapat angka tinggi 36,1 persen, dan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD di angka 33,7 persen.
Kemudian, survei dari LSI Denny JA di tanggal 25 Oktober 2023 lalu yang juga menghasilkan perolehan elektabilitas Anies Baswedan-Cak Imin paling rendang hanya 15 persen.
Sementara, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memperoleh 39,3 persen, dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD 36,9 persen.
Menurut Mardani, hasil survei tersebut akan terus menjadi masukan bagi pihaknya dalam proses pemenangan Anies Baswedan-Cak Imin.
Baca Juga: Anies Baswedan Silaturahmi Bersama Relawan AMIN Malaysia, Bahas Teritori Indonesia dan Luar Negeri
Mardani menilai, mau tidak mau survei harus tetap dilakukan sesuai ketentuan ilmiah sehingga bisa lebih terlihat menyeluruh.
"Karena itu spotlight memang selalu ramai, tapi hasil itu lebih menyeluruh lebih sesuai dengan kaidah ilmiah yang samplingnya itu rata," pungkas Mardani.***