AYOJAKARTA.COM – Bakal Cawapres sekaligus Ketua Umum Partai PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin terus manuver dengan mengatasnamakan Nahdlatul Ulama (NU) dan PKB.
Kendati demikian, Cak Imin diisukan masih berusaha untuk melakukan sosialisasi di berbagai daerah untuk mempersiapkan Pilpres 2024.
Belum lama ini Cak Imin melakukan Ziarah ke makam Sunan Gunung Djati di Cirebon. Dalam ziarahnya Cak Imin sempat membantah sindiran yang dilontarkan oleh Ketua BPNU Yahya Cholil Staquf yang meminta untuk tidak ada Capres dan Cawapres yang melibatkan NU dalam politik praktis.
Baca Juga: Ungkap Kepribadian dan Karakter Seseorang, Berdasarkan Bentuk Kaki yang Dimilikinya
Mengenai permintaan dari Ketua PBNU, Cak Imin menyatakan bahwa ia setuju dengan permintaan PBNU untuk tidak melibatkan lembaga NU ke ranah politik praktis.
Upaya Partai Politik beserta Capres dan Cawapres untuk menarik warga Nahdiyin tidak akan pernah dapat dihindari, karena faktanya dengan jumlah anggota yang mencapai 150 juta menjadikan NU menjadi incaran partai politik.
Wakil Ketua Partai PKB Jazilul Fawaid mengungkapkan bahwa pernyataan Cak Imin menjual nama NU itu tidak benar, yang sebenarnya terjadi adalah Cak Imin sedang meneruskan perjuangan mandat politik dari kaum Nahdiyin.
“Pada tahun 1998 kaum Nahdiyin di fasilitasi oleh pengurus besar Nahdlatul Ulama untuk melahirkan partai kebangkitan bangsa sebagai alat perjuangan politik. Jadi Cak Imin ini sedang berjuang.” Ungkap Jazilul, dikutip Ayojakarta.com dari Youtube tvOneNews, Selasa (12/09/2023).
Baca Juga: Ternyata 4 Jurusan ini Bisa Bikin Cepat Jadi PNS, Nomor 1 dan Nomor 2 yang Paling Banyak Dicari!
Menurutnya bahwa Cak Imin sudah membuktikan perjuangan tersebut dengan dibuktikannya koalisi yang bergabung dengan PKB selalu menang dalam pemilu.
Ia pun menambahkan bahwa tipe kepemimpinan Cak Imin yang solid dan selalu mengobarkan semangat sudah terbukti, dengan terpilihnya Cak Imin sebagai Bakal Cawapres dalam Pilpres 2024 diungkapkan oleh Jazilul sebagai sebuah mandat untuk meneruskan perjuangan politik NU.***