AYOJAKARTA.COM — Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menegaskan tidak netral pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 demi kepentingan negara dikritik Rocky Gerung. Ia blak-blakan menyebut sikap Jokowi ini sangat tidak baik.
Hal tersebut juga sejalan dengan perkataan Jusuf Kalla (JK) yang mengatakan bahwa Jokowi mengambil resiko cawe-cawe tersebut sama dengan campur tangan yang buruk.
Namun, Rocky menilai bahwa ucapan JK ini sebagai salah satu sikap yang mengkritik Jokowi dengan cara yang aman.
Pengamat politik ini mengatakan bahwa cawe-cawe Jokowi ini dimulai dari Projo mempromosikan kepala negara menjadi tiga periode, Staf Kepresidenan Moeldoko yang "merampok" Partai Demokrat, dan sistem pemilu dilakukan secara tertutup.
Baca Juga: Dihiasi Foto Mesra Bersama Jokowi, Baliho Besar '2024 Jatahnya Pak Prabowo' Terpampang di Lampung
Ia juga menjelaskan bahwa cawe-cawe Jokowi ini secara tidak langsung dianggap publik sebagai main curang.
"Nah orang tidak mungkin merumuskan sesuatu di luar grammar itu. Jadi istilah cawe-cawe itu semacam konklusi dari peristiwa itu, yang masuk di benak publik, jadi publik menganggap cawe-cawe akhirnya diakui oleh Jokowi sebagai dia mau main curang," ungkap Rocky Gerung dalam acara Indonesia Lawyers Club, dikutip Senin, 5 Juni 2023.
Kecurangan tersebut juga terlihat di saat isu tiga periode yang diagungkan oleh relawan Jokowi.
"Dari awal kecurangan itu kan diperlihatkan pelan-pelan, itu tiga periode ngapain? Presiden bilang itu dari relawan Projo itu karena relawan Projo menganggap Jokowi ingin tiga periode dengan dalilnya yang bisa kita tangkep," katanya.
Kata dia, sikap cawe-cawe Jokowi ini muncul karena ia tidak punya peralatan untuk memastikan siapa yang akan dibebankan dengan legasinya.
Oleh karena itu, lanjut Rocky, Presiden Jokowi turun tangan sendiri karena tidak ada yang bisa disuruhnya untuk main curang.
"Maka dianggap kalau begitu, saya sendiri yang turun lapangan, saya mau cawe-cawe, saya tidak netral. Terjemahannya di wikipedia artinya saya mau main curang, itu psikologi terbalik yang akhirnya diucapkan oleh Jokowi kan," ucapnya.
Rocky juga mengatakan sikap cawe-cawe tersebut juga terjadi karena kekesalannya pada Megawati Soekarnoputri karena Ganjar lebih nurut pada Ketum PDI Perjuangan.
"Power rangers-nya itu di rampas oleh Mega. Dia kehilangan power sebetulnya," lanjutnya.
Cara yang dilakukan Jokowi, ungkapnya, dari sudut pandang psikoanalisis itu bukan kapasitasnya sebagai presiden ataupun kepala negara, tapi sebagai political player yang menegakkan benang basah.
"Jokowi ada dalam frustasi mau ngapain, kayak orang yang kiri kanan nggak tau mau ngapain. Ya sendiri aja ngambil resikonya," jelasnya.***