AYOJAKARTA.COM - Tuntutan 12 tahun terhadap Richard Eliezer mendapatkan respons yang negatif dari masyarakat.
Terlebih lagi mereka telah berekspektasi tinggi bahwa tuntutan yang dibacakan tidak akan lebih tinggi dari tiga terdakwa lainnya yaitu Putri Candrawathi, Ricky Rizal dan Kuat Maruf.
Hal ini pun kemudian memicu banyak protes baik pada saat jalannya sidang ataupun di sosial media.
Baca Juga: Ferdy Sambo Janjikan Keluarga Richard Eliezer Cs Aman hingga Dianggap Anak, Jika Lakukan Hal Ini
Pada platform Twitter, nama Richard Eliezer masih menjadi trending hingga hari ini dengan 12 ribu lebih cuitan.
Namun ada hal yang sedikit terlupakan namun menarik perhatian, yaitu adanya ekspresi dari para Jaksa saat membacakan tuntutan terhadap Richard Eliezer ini (19/1/2023).
Dalam tayangan Primetime News yang tampil pada kanal YouTube MetroTv (19/1/2023), seorang pakar mikro ekspresi Monica Kumalasari membaca ekspresi dari para jaksa.
Monica Kumalasari mengatakan bahwa ada dua hal yang bisa diamati dari para jaksa yang membacakan tuntutan tersebut.
"Kita akan mengamati bahasa non verbal yang bisa dilihat dari mikro ekspresi dan juga gesture yang merupakan pesan bahasa non verbal," jelas Monica Kumalasari.
"Kita amati dulu dari jaksa yang menyampaikan tuntutan ini, disini yang kita lihat ada suara yang bergoyang, suara smooth, terisak tetapi halus, dan kemudian kita lihat yang dibelakangnya ini posisi thinking seperti ini," ucap Monica Kumalasari.
"Kemudian juga ada membuang wajahnya, trus juga kita melihat ada sesuatu yang berat untuk berpikir ke atas seperti ini, saya mengamati yang dibelakang, dan juga mengusap mata," lanjutnya.
"Kemudian yang lebih jelas lagi yang berada disampingnya, terlihat gelisah kemudian sama mendongak juga seperti itu, kemudian mikro ekspresi yang bisa terlihat ada ekspresi sedih, kemudian ada mengusap mata sepertinya ada air mata yang jatuh walaupun sedikit, dan juga tangannya menepuk sebanyak dua kali kepada rekannya yang sedang menyampaikan tuntutannya," lanjutnya.
"Kalau kita lihat ada tiga orang jaksa disini dengan suasana kebatinan yang berbeda, ketika kita tidak mengamati secara detail mikro ekspresi atau ekspresi ekspresi yang mendukung bahasa tubuh mereka, ini memang akhirnya kita kecewa, tetapi dari ekspresi yang ditampilkan, kita bisa melihat tim jaksa penuntut umum ini menyampaikan tuntutan dengan berat hati, ini ada sesuatu yang memberatkan mereka, secara kebatinan secara emosi mereka ikut terlibat," tambah Monica Kumalasari
Kemudian Monica Kumalasari menjelaskan terkait ekspresi sedih para jaksa yang berbanding terbalik dengan tuntutan yang mereka buat sendiri.
"Dua hal yang diperhatikan ketika seseorang berekspresi terhadap suatu peristiwa, sesuatu yang berhubungan dengan kognisi thinking dan sesuatu yang berhubungan dengan feeling, ini yang saya amati ketika kognisi dengan feelingnya kurang selaras maka yang ada adalah nurani yang berbicara, kemudian terekspresikan melalui bahasa non verbalnya," jelas Monica Kumalasari.
"Dukungan mereka secara psikologis ini yang saya lihat dari rangkaian tadi, ini terasa sebetulnya walaupun mereka berusaha tampil secara kuat secara fair tapi bahasa verbalnya mereka menyampaikan dukungan atau empati apa yang diputuskan oleh mereka," tambah Monica.
Monica menjelaskan bahwa ada perbedaan antara hati nurani yang bertentangan dengan tuntutan yang mereka bacakan lalu.
"Individu-individu ini memiliki kesepakatan yang sama untuk menampilkan bahasa non verbal yang menyatakan ada empati dari keputusan yang diambil dengan hati nurani mereka tetapi dalam individu mereka berada dalam satu sistem, kita tidak tahu tekanan tekanan apa yang diberikan kepada mereka,"pungkas Monica Kumalasari.***