AYOJAKARTA.COM--Tewasnya Brigadir J yang terjadi pada 8 Juli 2022 di kediaman Ferdy Sambo, ikut menyeret sejumlah perwira kepolisian.
Selain Hendra Kurniawan, nama Arif Rachman Arifin juga ikut terbawa ke dalam derasnya pusaran kasus Brigadir J.
Dalam kasus Brigadir J, Arif Rahman Arifin yang sebelumnya menjabat sebagai Wakaden B Biro Paminal Propam Polri, kemudian ikut dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus perintangan penyidikan hingga membuatnya dipecat dengan tidak hormat dari kepolisian.
Baca Juga: Gara-gara Ferdy Sambo, Arif Rahman Sampai Menangis di Tengah Persidangan, Mengapa?
Dalam kasus tewasnya Brigadir J, Arif Rahman berperan sebagai pemusnah barang bukti yang berasal dari rekaman CCTV.
Pada 14 Juli 2022, Hendra Kurniawan sempat menghubungi Arif guna memastikan setiap perangkat elektronik yang telah diperintahkan Ferdy Sambo sudah dimusnahkan.
Keesokan harinya, tanggal 15 Juli 2022 Arif kemudian menjalankan perintah Hendra Kurniawan dengan cara mematahkan laptop milik Baiquni hingga menjadi beberapa bagian.
Potongan barang bukti tersebut kemudian dibawa pulang Arif Rahman, sebelum kemudian dengan suka rela ia serahkan ke penyidik 340.
Baca Juga: Nekat Hancurkan Laptop Brigadir J, Arif Rahman Hanya Bisa Pasrah Dicecar Hakim: Disuruh Memusnahkan
Hal tersebut dilakukan Arif setelah menyadari adanya perbedaan antara cerita yang telah disampaikan Putri Candrawati serta Ferdy Sambo.
Di mana Ferdy Sambo menjelaskan bahwa kematian Brigadir J akibat tembak menembak dengan Bharada E, sudah terjadi sebelum kedatangan Ferdy Sambo.
Sedangkan dari rekaman CCTV terlihat sosok Brigadir J yang masih dalam keadaan hidup saat Ferdy Sambo datang.
Akibat adanya perbedaan fakta dan rasa bingung tersebut, Arif Rahman mengaku sampai berlutut dan gemetar.
Baca Juga: Ditanya JPU, Chuck Putranto Lancar Ceritakan Hubungan Putri Candrawathi dan Brigadir J
“Karena saya mengalami langsung, saya melihat sendiri proses otopsi, mendengar langsung penuturan Ibu Putri Candrawati,” jelas Arif.
Dalam keterangan di persidangan tanggal 13 Januari 2023 lalu, Arif juga sempat memperlihatkan rasa takutnya di hadapan peserta sidang.
“Rasa takut itu besar yang mulia, kemarin waktu saya menceritakan berbeda dengan Pak FS saja, terus terang keluarga saya itu takut,” ujar Arif.
Arif Rahman juga mengakui kekhawatiran jika hal yang terjadi pada Brigadir J, juga terjadi pada keluarganya.
“Istri saya sempat bilang, bayangkan ajudan saja bisa dibunuh, bagaimana saya tidak kepikiran yang mulia,” tambah Arif seraya mengusap air mata.
Dalam situasi takut, Arief, Baiquni serta Chuk mengaku lebih merasa tenang dan terlindungi ketika berada di penempatan khusus.
“Kita sepakat kita buka aja semuanya, karena kondisi lebih aman, Pak FS juga sudah di Patsus ketika itu,” jelas Arif.