AYOJAKARTA.COM - Sidang lanjutan pembunuhan berencana Brigadir Yosua pada Rabu, 11 Januari 2023 begitu menyita perhatian publik.
Pasalnya, pada sidang tersebut dihadirkan Putri Candrawathi yang diperiksa terakhir kali sebagai terdakwa.
Saat diperiksa sebagai terdakwa, Putri Candrawathi terlihat kerap menangis saat memberikan keterangan.
Terlebih lagi saat ia menceritakan tentang kronologi pelecehan seksual yang diklaim terjadi padanya.
Hal ini pun kemudian mendapatkan tanggapan dari seorang Pakar Mkro Ekspresi Kirdi Putra.
Kirdi menerangkan beberapa point terkait ekspresi menangis yang mewarnai persidangan.
Kirdi menyampaikan terkait tangisan yang ditunjukkan oleh Putri Candrawati adalah benar sebuah ekspresi kesedihan.
"Kalau kita bicara katakanlah hanya sekedar ekspresi dan gestur, Putri saat ini yang ditampilkan saya akan bilang ini real sadness, ini real menangis, dan ekspresi wajahnya adalah ekspresi sedih," ucap Kirdi, dikutip dari siaran Apa Kabar Indonesia Malam, Kamis, 12 Januari 2023.
"Sayangnya trauma itu tidak bisa kita lihat dari ekspresi karena harus didalami oleh pakar kesehatan mental seperti psikiater, psikolog gitu," lanjut Kirdi.
Baca Juga: Tak Disangka! Putri Candrawathi Bongkar Peran Ferdy Sambo Bantu Yosua Masuk Jadi Anggota Bareskrim
Kirdi kemudian masuk kedalam penjelasan terkait trauma terkait keadaan Putri Candrawati saat berada di persidangan tersebut.
"Namun ada sesuatu yang menarik, kalau kita bicara secara umum ya, seseorang yang mengalami sebuah trauma itu nggak bisa lompat ekspresinya, emosinya dalam waktu ke waktu yang lain cukup cepat," ucap Kirdi.
"Di dalam hal ini kalau kita lihat secara lengkap, memang menangis ketika di momen tersebut selama beberapa menit dia menangis, tali ketika bergeser ke pertanyaan yang lain itu serunya adalah emosinya naik lagi biasa aja ya hampir biasa," tambah Kirdi.
Kirdi mengatakan bahwa dari sikap yang ditunjukkan oleh Putri Candrawathi tersebut tercium aroma yang sangat janggal.
"Kalau kita bicara mengenai korban kekerasan seksual itu traumatis sudah pasti buat laki laki atau perempuan korbannya sama saja, ketika dipicu emosinya itu akan bertahan cukup lama," papar Kirdi.
"Jadi kalau ditanya pertanyaan yang lain masih kadang kadang cuma narik nafas, masih terbata bata, tidak harus seperti itu tapi yang jelas kita harus melihat residu emosinya cukup," lanjut Kirdi.
Ia pun menambahkan beberapa penjelasan mengenai trauma yang disebabkan oleh kejahatan kekerasan seksual.
"Kalau bicara kasus ini sudah lama ada dua hal besar yang bisa dikomentari untuk hal ini satu untuk korban dalam hal ini kekerasan seksual biasanya trauma itu bisa bertahan dalam jangka waktu cukup panjang bisa yang berbulan bulan ada yang bertahun tahun, jadi cukup nggak fear untuk bu Putri kalau kita bilang wah nggak ada trauma nih," jelas Kirdi.
"Tapi di dalam hukum pidana kasus yang berlarut-larut itu nggak boleh, kenapa satu alat bukti barang bukti yang ditinggal itu lama lama makin pudar, dua ingatan para saksi juga makin lama makin pudar, kemudian pelaku bisa merancang skenario makin bagus termasuk juga yang berpura pura berekspresi," ucap Kirdi.
Baca Juga: Tidak Minta Izin Ketika Pindahkan Rekening Yosua, Putri Candrawathi: Semuanya Kan Uang Suami Saya
Di akhir penjelasannya Kirdi memberikan kesimpulan bahwa tangisan yang diproyeksikan oleh Putri Candrawathi terkait kesedihan merupakan hal yang janggal.
"Kalau dari saya terlalu janggal seseorang bisa nangis sesenggukan seperti itu, tetapi ketika dikasih pertanyaan lain ekspresinya seperti itu," pungkas Kirdi.***