Nasional

Aktivitas Subduksi Sebabkan Guncangan M 7,9 di Maluku, Ahli: Ada 13 Segmen Lainnya dengan Potensi di Atas 8 SR

Oleh: Ardiany Fitri Sholekah Selasa 10 Jan 2023, 16:01 WIB
BMKG memberikan peringatan dini tsunami usai gempa Maluku.

AYOJAKARTA.COM - Kabar mengenai gempa bumi magnitudo (M) 7,9 yang mengguncang wilayah Pantai Utara Maluku Barat Daya, Maluku mengejutkan banyak pihak.

Pasalnya beberapa saat setelah gempa bumi terjadi BMKG memberikan peringatan dini tsunami.

Hingga saat ini Daryono yang merupakan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG mengatakan melalui akun Twitter-nya, bahwa hingga pukul 09.00 WIB telah terjadi gempa susulan sebanyak 7 kali dengan magnitudo terbesar M 5,7 dan yang terkecil M 3,8.

Pihak BMKG kemudian mengeluarkan Press Release Gempabumi Tektonik M7,9 di Maluku Barat Daya, Papua, berpotensi tsunami yang terjadi pada Selasa, 10 Januari 2023.

Baca Juga: Jayapura Diguncang Gempa Lagi, BMKG Sebut Pusat Gempa Berada di Laut 19 Km

Dalam penjelasannya BMKG mengatakan berdasarkan analisisnya, gempa bumi ini memiliki parameter update M 7,5 dengan kedalaman 130 km.

Lebih lanjut BMKG memberikan penjelasan bahwa dengan memperhatikan lokasi episenternya dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat adanya aktivitas subduksi Laut Banda. 

Kemudian berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki pergerakan naik (thrust fault).

Guncangan gempa pada titik tersebut bukan merupakan yang pertama kali terjadi jika dilihat dari sejarahnya.

Baca Juga: BMKG Akhiri Peringatan Tsunami, Gempa Maluku 7,9 Magnitudo Dini Hari Selasa, 10 Januari 2023

Beberapa gempa dengan kategori gempa merusak tercatat pernah mengguncang wilayah Maluku Barat Daya, Maluku di antaranya adalah:

  • M 7,1 - Pada tanggal 02-03-2005 dengan kedalaman 202 km.
  • M 6,5 - Pada tanggal 09-11-1998 dengan kedalaman 33 km
  • M 7 - Pada tanggal 09-11-1998 dengan kedalaman 33 km
  • M 5,6 - Pada tanggal 16-12-2021 dengan kedalaman 26 km
  • M 6,8 - Pada tanggal 17-08-1987 dengan kedalaman 67 km
  • M 7 - Pada tanggal 20-12-1992 dengan kedalaman 78 km
  • M 7,7 - Pada tanggal 24-06-2019 dengan kedalaman 231 km
  • M 7,2 - Pada tanggal 24-10-2009 dengan kedalaman 156 km
  • M 7,1 - Pada tanggal 24-11-1983 dengan kedalaman 179 km
  • M 7 - Pada tanggal 25-12-1995 dengan kedalaman 142 km

Berdasarkan penyebabnya, gempa bumi yang terjadi pada wilayah Maluku Barat Daya tersebut merupakan aktivitas subduksi Laut Banda.

Dalam sebuah tayangan video pada sebuah channel YouTube Narasi Newsroom, dijelaskan mengenai pengertian dari aktivitas subduksi.

Aktivitas subduksi merupakan tumbukan yang terjadi akibat dari gerakan tiga lempeng yang berada di Indonesia.

Pergerakan lempeng tersebut berupa lempeng benua dan lempeng samudera yang telah bergerak selama jutaan tahun lamanya.

Baca Juga: Catatan Sejarah Gempa Merusak Wilayah Maluku Barat Daya, Terjadi Sejak Tahun 1983 dengan Magnitudo 7,1

Tumbukan tersebut memiliki kekuatan yang sangat besar karena memiliki perbedaan massa jenis, hal inilah yang disebut megathrust.

Hal ini kemudian dijelaskan oleh Kepala PRTH BRIN, Dr. Ing. Widjo Kongko terkait gempa-gempa yang terjadi pada zona subduksi.

"Nah ini batas-batas tumbukan itu adalah daerah megathrust dan kemudian itu yang bisa menyebabkan gempa bumi dengan tinggi," ucap Dr. Ing. Widjo Kongko.

Dr. Ing Widjo Kongko pun menjelaskan tentang zona Subduksi di Indonesia yang terbagi atas 13 segmen tersebar dari Aceh sampai Papua dengan potensi gempa 8,5 skala Richter (SR) hingga 9 SR.

Baca Juga: BREAKING NEWS: Gempa Magnitudo 4.8 Guncang Sumur Banten

"Itu daerah subduksi semua, dan itu potensi gempa megathrust, istilahnya begitu, dan itu besar, bisa sampai skala 8 keatas 8,5 bahkan 9, kaya yang di Aceh," ucap Widji Kongko.

Lebih lanjut Widjo Kongko memetakan zona subduksi megathrust yang ada di Indonesia, antara lain Aceh Andaman, Nias Simelue, Batu, Mentawai - Siberut, Mentawai - Pagai, Enggano, Selat Sunda, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumba, Sulawesi, Filipina, Papua.***

Reporter Ardiany Fitri Sholekah
Editor Tedi Rukmana