AYOJAKARTA.COM – Indonesia merupakan negara yang sangat rawan untuk mendapatkan bencana alam gempa bumi setiap waktunya, terbukti dengan catatan yang ada akhir-akhir ini.
Sudah bukan hal yang aneh lagi, apabila seseorang merasakan guncangan yang cukup kuat ketika sedang beraktifitas normal di hari-hari biasanya.
Hal ini menjadi suatu hal yang wajib dipahami oleh setiap orang, bahwa Indonesia adalah negara yang sangat rawan dan berpotensi untuk terjadinya bencana gempa bumi.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengingatkan masyarakat tentang keberadaan gempa mematikan di Indonesia dalam 1 tahun belakangan.
Sepanjang tahun 2022, dua gempa mematikan telah terjadi di Indonesia yang menyebabkan korban jiwa dalam jumlah yang signifikan yaitu Gempa Pasamanan dan Gempa Cianjur.
“Selama tahun 2022 ‘Deadly earthquake’ atau gempa mematikan terjadi 2 kali yaitu Gempa Pasaman barat M6,3 menyebabkan 25 orang meninggal, dan Gempa Cianjur M5,6 menyebabkan 334 orang meninggal,” tulis Daryono melalui akun Twitter-nya.
Baca Juga: Ingin Berhenti Merokok di Tahun 2023? 3 Cara Ini Bisa Anda Lakukan, Bisa Gunakan Obat?
Sementara itu, Daryono mengungkapkan bahwa sepanjang 2022, aktivitas gempa di Indonesia masih berada di atas rata-rata untuk totalnya secara keseluruhan.
Ia pun memberi peringatan kepada masyarakat agar tidak meremehkan gempa kecil yang berpotensi merusak seperti Gempa Ketapang dan Gempa Karangasem-Gianyar.
“Selama tahun 2022 jumlah aktivitas gempa di Indonesia masih diatas rata-ratanya. Waspadai gempa kecil yang merusak sperti gempa Gempa Ketapang Kalbar M4,9 dan Gempa Karangasem-Gianyar M4,6,” ujarnya.
Daryono juga meminta masyarakat untuk mewaspadai daerah dengan kluster seismisitas aktif gempa dengan sesar yang belum terpetakan.
Sehubungan dengan hal tersebut, ia merasa bahwa masyarakat wajib mengenal sejarah gempa di daerah masing-masing untuk mengetahui potensi perulangan gempa yang mungkin terjadi suatu saat nanti.
“Waspadai daerah dengen kluster seismisitas aktif gempa namun belum terpetakan jalur sesarnya.Masyarakat kita wajib mengenal sejarah gempa di daerah masing-masing, karena gempa kuat akan mengalami perulangan (return period) dalam periodesitas tertentu,” tandasnya.***