Nasional

Ngeri! Wabah Amoeba Pemakan Otak Tercatat jadi Penyebab Kematian Hingga 97 Persen, Begini Ciri-cirinya

Oleh: Putri Ratnasari Jumat 30 Des 2022, 17:59 WIB
Ngeri! Amoeba Pemakan Otak Tercatat jadi Penyebab Kematian Hingga 97 Persen, Begini Ciri-cirinya

AYOJAKARTA.COM - Amoeba Pemakan Otak disebut menjadi penyebab kematian di tiga negara.

Lalu apa itu Amoeba Pemakan Otak sebenarnya? Hingga sebabkan kematian dengan prosentase yang tinggi.

Melansir dari kanal YouTube Kompas.com, Amoeba Pemakan Otak atau Naeglaria Fowleri merupakan amoeba yang menghancurkan jaringan otak.

Dan menyebabkan infeksi Menigoensefalitis Amenik Primer atau PAM.

Baca Juga: Livy Renata Gak Kenal Gus Dur Dan Pikir Dia Komika, Nopek Novian: Ya, Beliau Komika Asal Jombang

Yang mana parasit ini masuk ke tubuh melalui hidung, dan berjalan menuju ke otak.

Dijelaskan juga bahwa Amoeba Pemakan Otak ini kerap ditemukan di air tawar hangat, seperti danau dan sungai.

Menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea atau KDCA.

Gejala awal yang muncul adalah sakit kepala, demam, mual, atau muntah.

Selanjutnya dapat menyebabkan sakit kepala parah, demam, muntah, dan leher kaku.

Baca Juga: Asyik! Dapatkan Bantuan BPNT Januari 2023 Asal NIK KTP Penuhi 6 Hal Ini, Cek ke cekbansos.kemensos.go.id

Berdasarkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menyebut bahwa infeksi Amoeba Pemakan Otak ini memiliki tingkat kematian lebih dari 97 persen.

Naeglaria Fowleri ini pun dijelaskan memiliki masa inkubasi hanya 2 atau 3 hari saja, dan paling banyak 15 hari.

Diungkapkan bahwa hingga saat ini baru 4 orang yang selamat, dari 154 yang terinfeksi.

Karena kasus infeksi Amoeba Pemakan Otak ini masih dibilang sangat jarang.

Serta diungkapkan, perkembangan infeksinya sangat cepat.

Baca Juga: Wow! BMKG Catat Ada 10.792 Gempa di Indonesia pada 1 Januari – 29 Desember 2022

Bahkan sampai saat ini pengobatannya masih sulit untuk diidentifikasikan.

Namun, infeksi Amoeba Pemakan Otak ini dapat dicegah dengan menghindari berenang di air tawar hangat.***

Reporter Putri Ratnasari
Editor Dian Naren