AYOJAKARTA.COM – Bahasan tentang potensi dan ancaman bencana gempa megathrust serta berbagai dampak yang ditimbulkan setelahnya menjadi ramai dibicarakan.
Sejatinya sudah menjadi bahan pertimbangan serta acuan sejak beberapa tahun yang lalu, dimana ancaman megathrust ikut tersebut di dalamnya.
Pemerintah melalui BMKG, sudah dengan jelas dan rinci mensosialisasikan potensi serta ancaman megathrust di berbagai daerah.
Terlebih, daerah-daerah yang jaraknya berdekatan dengan zona tumbuk antar lempeng, seperti wilayah Barat Sumatera, Selatan Jawa, Nusa Tenggara hingga Selatan Maluku.
Daerah tersebut merupakan jalur megathrust yang berpotensi mengakibatkan gempa besar hingga menyebabkan datangnya tsunami.
Selain karena kepulauan Indonesia berada dalam rangkaian ring of fire atau cincin api dari gunung berapi, juga situs aktif seismik.
Situs atau lokasi seismik aktif tersebut membentang sepanjang 40.000 kilometer hingga ke Samudera Pasifik.
Dengan kondisi seperti itu, maka potensi datangnya gempa besar jelas merupakan bentuk ancaman yang nyata.
Meski megathrust merupakan gempa bumi intralempeng yang besaran momentumnya bisa mencapai 9 magnitudo, publik diminta untuk tidak bersikap panik.
PLT Kepala Pusat Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari memperkirakan gempa megathrust terjadi setiap 400 tahun.
"Ketika kita bicara tsunami megathrust, maka ketika itu, kita bicara upaya mitigasi nya untuk penyelamatan nyawa, evakuasi, hanya evakuasi," ujar Abdul dalam "Disaster Briefing" diikuti daring di Jakarta, Senin, 14 November 2022, dikutip dari Suara.com.
Masih menurut Abdul, catatan terakhir menunjukkan gempa megathrust di selatan Jawa terjadi terakhir kali pada tahun 1818.
Dalam sejumlah penelitian kegempaan yang dilakukan oleh Dwikorita Karnawati, Tatok Yatimantoro, Daryono dari BMKG, Rahma Hanifa dari BRIN.
Sri Widiantoro dari ITB Bandung, serta Serta Nicholas Rawlinson dari Department of Earth Sciences University of Cambridge.
Menyebut peristiwa gempa megathrust di selatan Jawa dapat menyebabkan terjadinya tsunami setinggi 34 meter.
Sri Widiyantoro dalam journal nature menyebut, skenario terburuk adalah dimana dua segmen megathrust yang membentang di Jawa pecah secara bersamaan.
Sementara itu, Deputi bidang Geofisika BMKG menuturkan bahwa gempa bumi megathrust bersifat potensi bukan prediksi meski tidak tahu kapan akan terjadi.***