Nasional

Jangan Langsung Panik! Meski Berdekatan dengan Situs Seismik, Potensi Gempa Megathrust Bukan Sekedar Polemik

Oleh: Karseno AJ Senin 19 Des 2022, 17:54 WIB
Ilustrasi, potensi dan ancaman bencana gempa megathrust serta berbagai dampak yang ditimbulkan setelahnya menjadi ramai dibicarakan.

AYOJAKARTA.COM – Bahasan tentang potensi dan ancaman bencana gempa megathrust serta berbagai dampak yang ditimbulkan setelahnya menjadi ramai dibicarakan.

Sejatinya sudah menjadi bahan pertimbangan serta acuan sejak beberapa tahun yang lalu, dimana ancaman megathrust ikut tersebut di dalamnya.

Pemerintah melalui BMKG, sudah dengan jelas dan rinci mensosialisasikan potensi serta ancaman megathrust di berbagai daerah.

Baca Juga: Ramai Ramalan Hard Gumay soal Bencana 2023, Ahli Telah Petakan 13 Zona Subduksi Megathrust Termasuk Sulawesi

Terlebih, daerah-daerah yang jaraknya berdekatan dengan zona tumbuk antar lempeng, seperti wilayah Barat Sumatera, Selatan Jawa, Nusa Tenggara hingga Selatan Maluku.

Daerah tersebut merupakan jalur megathrust yang berpotensi mengakibatkan gempa besar hingga menyebabkan datangnya tsunami.

Selain karena kepulauan Indonesia berada dalam rangkaian ring of fire atau cincin api dari gunung berapi, juga situs aktif seismik.

Baca Juga: Ahli Geodesi ITB vs Tim Scientific Report: Misteri Siklus Gempa Megathrust Tuai Kontroversi, Mana yang Benar?

Situs atau lokasi seismik aktif tersebut membentang sepanjang 40.000 kilometer hingga ke Samudera Pasifik.  

Dengan kondisi seperti itu, maka potensi datangnya gempa besar jelas merupakan bentuk ancaman yang nyata.

Meski megathrust merupakan gempa bumi intralempeng yang besaran momentumnya bisa mencapai 9 magnitudo, publik diminta untuk tidak bersikap panik.

PLT Kepala Pusat Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari memperkirakan gempa megathrust terjadi setiap 400 tahun.

Baca Juga: Terpopuler! Peneliti Geodesi Ungkap 5 Wilayah Ini Dalam Fase 'Menunggu' Siklus Puncak dari Gempa Megathrust

"Ketika kita bicara tsunami megathrust, maka ketika itu, kita bicara upaya mitigasi nya untuk penyelamatan nyawa, evakuasi, hanya evakuasi," ujar Abdul dalam "Disaster Briefing" diikuti daring di Jakarta, Senin, 14 November 2022, dikutip dari Suara.com.

Masih menurut Abdul, catatan terakhir menunjukkan gempa megathrust di selatan Jawa terjadi terakhir kali pada tahun 1818.

Dalam sejumlah penelitian kegempaan yang dilakukan oleh Dwikorita Karnawati, Tatok Yatimantoro, Daryono dari BMKG, Rahma Hanifa dari BRIN.

Sri Widiantoro dari ITB Bandung, serta Serta Nicholas Rawlinson dari Department of Earth Sciences University of Cambridge.

Baca Juga: Benarkah Gempa Megathrust Akan Terjadi Dalam 40 Tahun Mendatang? Ini Kata Pakar Geodesi ITB Terkait Siklusnya!

Menyebut peristiwa gempa megathrust di selatan Jawa dapat menyebabkan terjadinya tsunami setinggi 34 meter.

Sri Widiyantoro dalam journal nature menyebut, skenario terburuk adalah dimana dua segmen megathrust yang membentang di Jawa pecah secara bersamaan.  

Sementara itu, Deputi bidang Geofisika BMKG menuturkan bahwa gempa bumi megathrust bersifat potensi bukan prediksi meski tidak tahu kapan akan terjadi.***

Reporter Karseno AJ
Editor Tedi Rukmana