AYOJAKARTA.COM – Isu tentang gempa megathrust dan tsunami 34 meter masih menjadi hal yang sangat menarik untuk dibicarakan.
Bahkan, gempa megathrust yang diprediksi akan terjadi di Pulau Jawa ini diperkirakan akan mengguncang dengan kekuatan hingga lebih dari 9 Magnitudo.
Walaupun demikian, sebenarnya kabar tentang gempa megathrust dan tsunami 34 meter sebenarnya bukanlah sebuah isu belaka.
Baca Juga: Berapa Honor dan Masa Kerja PPS Pemilu 2024? Simak Informasi Berikut Ini
Sejak beberapa tahun terakhir, ada banyak penelitian yang berhasil mengonfirmasi potensi gempa megathrust yang akan terjadi di Indonesia.
Seperti salah satu ahli geodesi dari ITB, Heri Andreas yang memberikan penjelasan tentang potensi gempa megathrust di sebuah program televisi.
Dikutip AyoJakarta dari kanal YouTube tvOne News, Heri Andreas menyatakan bahwa potensi gempa megathrust yang akan terjadi dan memicu tsunami 34 meter ini merupakan siklus setiap 200 tahun sekali.
“Dari hasil penelitian, disekitar 1400an itu ada rangkaian gempa bumi dan tsunami, 200 tahun berikutnya 1600an itu juga ada catatan gempa bumi dan tsunami, 200 tahun berikutnya di 1800an ada juga rangkaian gempa bumi dan tsunami. Jadi polanya itu per 200 tahunan itu jelas,” ungkap Heri Andreas.
Baca Juga: Mudah Banget! Tips Ampuh Cara Membuat Pohon Buah Mini dan Berbuah Lebat, Cuma Pake 2 Cara Ini
Ia kemudian menjelaskan, bahwa saat ini juga Indonesia sedang berada di posisi ujung siklus perulangan gempa dan tsunami besar, sejak tahun 2000-an.
“Ini artinya ditahun 2000an, sekarang 2022 kita sedang berada diujung siklus pengulangan gempa-gempa besar dan tsunami,” imbuhnya.
Di sisi lain, Heri Andreas kemudian mencoba memberi penjelasan tentang pembagian segmen megathrust yang ada di sepanjang kepulauan Indonesia.
Heri mengungkapkan bahwa dari beberapa wilayah tersebut, ada yang sedang menunggu dalam puncak terjadinya guncangan megathrust.
“Tentunya di daerah lain bisa terjadi ya tetapi kalau khusus ke segmen megathrust Jawa Sumatera, nah ini jadi sekarang yang sedang menunggu selatan Jawa Barat, Banten sampai 40 tahun ke depan,” jelas Peneliti Geodesi ITB tersebut.
“Termasuk selatan Padang sudah menunggu, kemudian Parangtritis sama sedang menunggu karena ini energinya juga bisa 9 di sini,” tambahnya sambil menunjukkan zona megathrust melalui komputer.
Baca Juga: Saldo Rekening Rp 100 Triliun Brigadir J Kembali Bergema, Pakar: Uang Itu di Debet
Tak hanya wilayah Jawa dan Sumatera saja, Pulau Bali juga disebut-sebut sebagai daerah yang termasuk dalam bagian zona subduksi megathrust.
“Nah kemudian Bali juga ya sebenarnya besar tapi ya sensitive lah di sini,” ungkapnya.
Di sisi lain, ahli geodesi asal ITB ini mengungkapkan bahwa dirinya belum bisa memastikan prediksi gempa megathrust benar-benar terjadi.
Bukan hanya dirinya, bahkan ia mengatakan sampai saat ini belum ada peneliti manapun yang berhasil mengungkap misteri terjadinya gempa megathrust.
“Kalau bicara kapan pastinya, belum ada peneliti yang bisa menentukan sampai dengan hari apalagi jamnya itu tidak ada, tetapi dikenal siklus gempabumi dimana gempa bisa berulang,” jelas Heri.
“Ya sebenarnya masih banyak misteri yang belum bisa terjawab terkait kapan pastinya, nah tetapi sampai saat ini kalau dimana kan udah jelas di sini, berapa kekuatannya? Sudah 8,7 sampai 9 itu udah fakta ilmiah,” pungkasnya.
Baca Juga: Hard Gumay Ramal Artis Inisial D yang Bakal Berseteru Dewi Perssik, Netizen: Denise Kayanya
Pendapat Lain Tentang Siklus Megathrust
Berbeda dengan pendapat yang disampaikan oleh peneliti geodesi dari ITB, ada peneliti lain yang menyampaikan pendapat tentang siklus megathrust.
Tim peneliti yang mengunggah hasil studinya di nature.com, menyampaikan bahwa zona megathrust memiliki siklus atau periode guncangan hingga 400 tahun.
Hasil studi mengungkapkan bahwa pergeseran lempeng (slip deficit) yang ada di area Pulau Jawa menjadi sebab terjadinya gempa dan tsunami dalam skala besar.
Daerah dengan slip deficit terkuat berada di selatan Jawa Barat, yang dapat menjadi sumber potensial gempa megathrust
Luas zona defisit di selatan Jawa Barat setara dengan gempa 8,9 Mw, dengan asumsi periode ulang 400 tahun.
Untuk periode ulang yang sama, area high slip deficit di Jawa Tengah dan Jawa Timur setara dengan gempa bermagnitudo 8,8 Mw.
Sedangkan jika kedua area tersebut pecah dalam satu kali gempa akan menghasilkan gempa dengan kekuatan 9,1 Mw.
Skenario terburuk dengan periode ulang 400 tahun dapat menimbulkan gempa raksasa sebesar Mw 9,1.
Tak hanya itu saja, tsunami yang sangat besar dapat terjadi dengan ketinggian maksimum 20,2 m di dekat pulau-pulau kecil di sebelah selatan Banten, provinsi paling barat Provinsi Banten.***