AYOJAKARTA.COM – Belakangan, setelah banyak terjadi gempa di beberapa wilayah di Tanah Air, orang banyak ingin tahu tentang apa yang disebut sebagai sesar.
Sesar atau disebut juga patahan (fault) secara geologi adalah bidang rekahan yang disertai oleh adanya pergeseran relatif (displacement) satu blok terhadap blok batuan lainnya.
Ada beberapa aktivitas sesar yaitu berupa sesar normal, sesar naik (reverse/thrust), dan sesar geseran-jurus atau mendatar (strike‐slip).
Profesor Riset dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi Danny Hilman Natawidjaja, memaparkan data Pemutakhiran Sesar Aktif yang telah dilakukan oleh BRIN di wilayah Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara dan Kalimantan.
“Banyak Sesar Aktif baru yang telah ditemukan selama berjalannya studi tersebut dari hanya sekitar 70-an sesar aktif di tahun 2010 hingga 250-an lebih di tahun 2017 dan sampai sekarang jumlahnya terus bertambah,” ujar Danny di laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Baca Juga: So Sweet, Ternyata Putri Candrawathi Cinta Pertama Ferdy Sambo Sejak 1 SMP
Danny berbbicara dalam workshop nasional Perkembangan Terkini Pemutakhiran Peta Sumber Dan Bahaya Gempa Indonesia secara hybrid di Jakarta, pada 29-30 November 2022.
Danny memulai penjelasan dari Pulau Sumatra. Meski Sumatra kerap diteliti, masih banyak yang belum diketahui tentang karakteristik sesar aktif di wilayan itu termasuk sesar aktif utamanya sesar Sumatra.
Selain itu, menurut Danny, masih banyak struktur sekunder dari sesar Sumatra yang sampai saat ini belum terpetakan.
Danny memberikan contoh di gempa Pidie Jaya. Gempa Pidie, menurut dia, terjadi di sesar aktif yang belum terpetakan sebelumnya.
Dalam lima tahun terakhir, menurut Danny, sudah dilakukan pemetaan lebih detail dari beberapa daerah di Sumatra seperti Lo Tawar, Sibolga, Sipirok, Kerinci.
“Studi yang dilakukan untuk pendetailan antara lain seperti survey GPR, Geolistrik, Study ERT dan studi trenching carbon dating,” kata Danny.
Beralih ke Pulau Jawa. Danny mengingatkan sesuatu yang penting menyangkut keberadaan Sesar Baribis – Kendeng sekarang disebut sebagai Java Backtrust.
Dalam peta 2017, Java Backtrust sudah pernah dipetakan meskipun belum lengkap atau belum akurat dan sekarang datanya sudah lebih lengkap lagi.
“Khususnya adalah terusan Sesar Baribis – Kendeng ke arah Jakarta sampai ke Anyer. Ini yang baru dan kemungkinan besar akan dimasukan ke peta selanjutnya. Semua studinya sudah cukup sering dilakukan termasuk pemetaan geologinya,” ungkap Danny.
Baca Juga: Kisah Asmara Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi di Balik Penembakan Terhadap Yosua
Baca Juga: BPOM Tarik Lagi Izin Edar 32 Obat Sirup, Cek Apakah Ada di Rumah Ya
Sesar Baribis Kendeng atau Java Backthrust
Menurut Danny, pemetaan Sesar Baribis Kendeng atau Java Backthrust di wilayah DKI Jakarta dilakukan berdasarkan data seismic refreksi, morfologi dan juga survey lapangan dan kedepannya akan ada studi lanjutan yang lebih detail lagi ke arah Jakarta kotanya,” jelas Danny.
Di Cianjur ada yang dinamakan dengan Sesar Cimandiri. Gempa Cianjur pada 21 November 2022 Magnitude 5.6. terjadi 15 KM barat laut dari Sesar Cimandiri.
“Yang menarik bahwa gempa Cianjur ini walaupun tidak besar tapi penyebaran aftershock-nya cukup luas dan cukup banyak. Aftershock di bagian Selatan itu yang terlihat seperti memicu dari Cisokan Thrust ini yang dipetakan kalau saya lihat dari penyebarannya,” tambah Danny.
Penambahan sesar aktif yang disebut sebagai Somorkoneng Fault sebenarnya sudah pernah dipetakan. Ketika membangun jembatan Suramadu, setelah dilakukan pendetailan oleh para ahli, ternyata di wilayah itu sesar aktif.
“Gempa terakhir yang terjadi pada sesar ini terjadi sekitar abad ke-17-an. Di wilayah Yogyakarta juga ada yang dikenal sebagai Sesar Opak yang menyebabkan gempa tahun 2006,” kata Danny.
Danny menyebutk di sana dipetakan sesar aktif baru yaitu Sesar Mataram. “Studi yg dilakukan antara lain studi survey geolistrik dan pemetaan berdasarkan morfologi disini terlihat Sesar Mataram ini berasosiasi dengan opset stream tp belum ada studi yang lebih detail.”
Menurut Danny, di Indonesia Timur juga sudah banyak dilakukan studi sesar aktif yang dilakukan 5 tahun terakhir ini seperti yang dilakukan di Sesar Palokuro dan Sesar Matano.
Bahkan setelah gempa pada tahun 2018 di Palu ada beberapa pihak yang ikut melakukan studi disini dari kelompok penelitian dan juga kelompok instansi.
“Penambahan informasi sesar aktif tersebut berbanding lurus dengan perkembangan studi dan detail yang dilakukan. Semakin detail studi yang dilakukan semakin banyak informasi juga yang bisa didapatkan,” jelas Danny.
Nuraini Rahma Hanifa, peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi dan juga sebagai perwakilan dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), menyampaikan beberapa catatan diskusi dalam workshop dan tindak lanjut Perkembangan Terkini Pemutakhiran Peta Sumber Dan Bahaya Gempa Indonesia.
Banyak sekali sumber gempa sesar aktif yang sebagian sudah diteliti dan dipetakan, tetapi masih banyak yang belum diketahui, sehingga masih diperlukan investigasi detail dan lokal untuk karakterisasi sumber gempa di Indonesia, dengan prioritas pada wilayah padat penduduk.
Pembangunan model GMPE (Ground Motion Prediction Equation) dan site parameterisasi soil properties yang sesuai dengan karakteristik sumber gempa di Indonesia sangat krusial. Begitu juga dengan penyusunan bangunan gedung infrastruktur tahan gempa.
Untuk itu, perlu penguatan kolaborasi lintas institusi baik di tingkat nasional maupun internasional.
Selain itu, masih banyak pemangku kepentingan, praktisi, masyarakat yang belum memahami sumber dan bahaya gempa Indonesia, serta pentingnya membangun bangunan gedung infrastruktur tahan gempa di Indonesia, sehingga sosialisasi dan peningkatan kapasitas menjadi sangat penting.***