Netizen

Pulkam atau Tidak Pulkam

Oleh: Admin Senin 30 Mar 2020, 07:35 WIB
Jaya Suprana (dok pribadi)

Sementara sang pangeran Denmark di dalam mahakarya Shakespeare “Hamlet” menimang sebuah tengkorak manusia sambil bergumam bimbang dilema “To Be Or Not To Be” maka sebagian warga Indonesia menghadapi kemelut wabah Corona sambil bimbang dilema “Pulkam Atau Tidak Pulkam”.

Urbanisasi 

Para bukan pelaku urbanisasi sulit mengerti ada warga ingin pulang kampung di masa wabah penyakit menular sedang merajalela. Sebaliknya para pelaku urbanisasi penganut mashab “mangan ora mangan asal kumpul” sulit mengerti kenapa ada orang yang tidak ingin pulkam. 

Mereka yang ingin pulkam lazimnya tidak gentar tertular virus Corona yang berkeliaran di dalam bus, kereta api, kapal laut ketika menempuh perjalanan pulkam dengan semboyan “Lebih baik mati di kampung halaman ketimbang di perantauan”. 

Mereka juga tidak peduli kemungkinan menjadi carrier pembawa virus Corona yang potensial menular ke keluarga, anak cucu, kakek nenek beserta seluruh warga di kampung halaman.

Tradisi 

AYO BACA : Pahlawan Kesehatan Kuba

Tradisi pulkam bukan monopoli masyarakat Indonesia. Masyarakat Jerman berbondong-bondong pulkam pada masa Hari Natal. Masyarakat China berduyun-duyung pulkam pada masa Hari Raya Imlek. Masyarakat India berjubel memadati jalan raya sampai jalan tikus menjelang hari raya Depavali.

Masyarakat Indonesia mudik menyambut Hari Raya Idul Fitri. Namun sangat perlu disadari bahwa semua tradisi itu bukan untuk dilakukan pada masa wabah penyakit menular. Resiko pulkam makin menyebar-luaskan penyakit menular terlalu besar untuk tetap nekad dilakukan. 

Tanggung Jawab 

Memang tidak mudah menyadarkan masyarakat untuk tidak pulkam selama tradisi pulkam sudah mendarah daging di dalam jiwaraga masing-masing. 

Menyadarkan masyarakat untuk tidak pulkam setara sulitnya dengan menyadarkan masyarakat untuk membayar pajak yang hanya bisa berhasil apabila ada paksaan secara hukum lengkap dengan sanksi bagi para pelanggarnya. Maka masalah kebimbangan pulkam atau tidak pulkan tidak akan terselesaikan apabila pulkam tidak tegas dilarang secara hukum sebagai suatu perilaku yang membahayakan kepentingan bersama. 

Membiarkan rakyat memilih pulkam atau tidak pulkam pada hakikatnya sama saja dengan membiarkan rakyat memilih hidup bersama atau mati bersama.  

AYO BACA : Ekspor Masker

Pembiaran pulkam juga tidak menghormati jasa para Pahlawan Kesehatan yang telah mempertaruhkan jiwa-raga demi gigih mencegah virus Corona menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. 

Keberanian 

Namun melarang atau tidak melarang pulkam merupakan dilema buah simalakama sebab masing-masing memiliki resiko dampak tersendiri. Memang dibutuhkan keberanian pihak yang paling berwenang untuk tegas melarang atau tidak melarang pulkam sambil berani menghadapi segala resiko dampak mulai dari sosial, kesehatan, politis sampai ekonomi. 

Apapun keputusan yang diambil seyogianya yang berwenang wajib bertanggung-jawab atas pilihan kebijakan yang dilaksanakan menjadi kenyataan. Tidak melarang pulkam berarti wajib bertanggung-jawab atas dampak wabah penyakit menular makin merajalela ke seluruh pelosok negeri. 

Melarang pulkam berarti wajib bertanggung-jawab atas dampak ekonomi dan sosial terutama bagi rakyat miskin. 

Rakyat memilih para pemimpin bukan yang menghindari tanggung-jawab namun justru yang sepenuhnya siap bertanggung-jawab atas keselamatan seluruh rakyat dari ancaman marabahaya.


Jaya Suprana  
Penulis adalah warga Indonesia yang berduka atas wafatnya sesama warga akibat virus Corona serta gugurnya para Pahlawan Kesehatan di gugus-terdepan pertempuran melawan virus Corona

AYO BACA : Nyepi

Reporter Admin
Editor Widya Victoria