Waktu saya di Yogya, hampir tiap hari dengar diskusi tentang jahatnya kapitalisme. Umumnya dialamatkan pada perusahaan asing yang menggaji murah karyawannya, sedangkan perusahan itu untung besar.
Saya tersentak, ternyata ada juga warung milik orang Indonesia yang menggaji sangat rendah karyawannya. Padahal saya perhatikan warung itu ramainya minta ampun. Lalu apa bedanya dengan perusahaan asing itu.
Sekarang kita melihat saudara-saudara kita sendiri menjual masker dengan harga gila-gilaan demi untung besar di tengah kesulitan ekonomi dan ketakutan warga pada virus corona.
Mereka masa bodoh dengan jargon nasionalisme, saya Pancasila, sebangsa setanah air, hari kesetiakawanan nasional, hari pahlawan, hari relawan, kerukunan antarumat beragama, ukhuwah islamiyah, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, rela menolong dan tabah, gotong royong, dll.
Jadi kapitalisme, keserakahan itu bukan soal warna kulit, agama, suku dan latar belakang lainnya, tapi soal cara otak dan hati melihat materi, atau pandangan seseorang terhadap dunia. Siapapun bisa terjangkit virus kapitalis ini.
Pemerintah sendiri mengaku tak berdaya. “pemerintah tidak bisa mencegah peningkatan harga masker, kita cegah pakai apapun, pakai peraturan apapun tetap tidak bisa karena pasar akan bermain," kata Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto di gedung Bina Graha, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin 17/2/2020 (sumber Detikcom dan CNBC Indonesia).
Kembali ke diskusi lama kita waktu di yogya dulu. Siapa yang paling kuat, pasar, rakyat atau negara? Pada soal masker saja, Menkes Terawan sudah jujur mengakui, pasarlah yang paling kuat. Bagaimana dengan pendidikan, pertanian, dan sektor lainnya?
Untuk penjual masker, peka dikitlah. Gimana ormas keagamaan adakah fatwa soal masker ini?
Hariqo Wibawa Satria
Pengamat Media Sosial dari Komunikonten; penulis buku Seni Mengelola Tim Media Sosial, Co Founder Global Influencer School
Instagram @hariqo81