Netizen

Indikator Cuaca Jakarta

Oleh: Admin Jumat 07 Feb 2020, 18:58 WIB
Yopi Ilhamsyah

MUSIM penghujan di Jakarta dilaporkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berlangsung hingga Maret. 

Cuaca situasional jauh di atas normal sebagai implikasi perubahan iklim, berakibat banjir pada tahun baru. 

Bagaimana mengetahui kondisi cuaca dan iklim di Indonesia, khususnya Jakarta? Penulis mencoba mengulasnya. 

Cuaca merupakan kondisi udara yang kita rasakan saat ini sementara iklim adalah rataan cuaca. Unsur-unsur cuaca yaitu suhu, kelembapan, tekanan, angin dan hujan. Kondisi udara tersebut masing-masing diukur menggunakan termometer, higrometer, barometer, anemometer, penakar hujan dan panci evaporasi. 

Biasanya alat-alat ini ditempatkan pada satu lokasi, disebut taman cuaca. Taman cuaca ini dikelola oleh pengamat cuaca yang bernaung dalam sebuah lembaga (di Indonesia, BMKG), selanjutnya dikenal stasiun cuaca.
 
Stasiun cuaca ini mengukur kondisi udara setiap jam sementara curah hujan diukur dari jam 07.00 pagi hingga jam 07.00 pagi keesokan harinya.

Untuk mengetahui kondisi iklim di suatu daerah, kondisi cuaca ini diamati hingga 30 tahun. Kenapa demikian? Hal ini untuk meminimalkan keragaman iklim atau sering dikenal dengan variabilitas iklim yang ditimbulkan oleh pengaruh iklim global, seperti El Nino dan La Nina. Kondisi udara selama 30 tahun ini disebut kondisi normal iklim.

Salah satu unsur cuaca yang memiliki variabilitas tinggi di Indonesia adalah hujan. Dalam kondisi normal, Indonesia memiliki tiga pola hujan yaitu monsunal, ekuatorial dan lokal. Monsunal dikenal dengan pola huruf V di mana musim hujan dan kering-nya jelas. Musim hujan berlangsung Januari-Februari sementara kemarau pada Juli-Agustus. Pola monsunal berlaku di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat. Hujan ekuatorial berpola huruf M dengan dua puncak hujan yaitu Mei dan November berlangsung di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Hujan lokal berpola huruf V terbalik dengan puncak hujan pada Juli-Agustus di Maluku.

Jakarta berpola monsunal dengan masing-masing curah hujan pada Desember, Januari, Februari dan Maret sebesar 230, 460, 260 dan 250 milimeter (mm) berdasarkan data BMKG selama 30 tahun.

Jadi, saat Jakarta menerima hujan mencapai 377 mm dalam satu hari, tentu saja banjir karena satu bulan saja hanya 460 mm sementara kejadian banjir lalu bernilai 377 mm hanya satu hari. Nilai 1 mm air hujan yang turun di Jakarta timur yang memiliki luas 188 km persegi sebanding dengan 188 juta liter air. Kalau 377 mm guyuran hujan, artinya ada sebanyak 71 miliar liter air di daratan timur Jakarta! Sebuah volume air yang masif di urban timur yang ramai. 

BMKG merilis prediksi bahwa hujan dengan intensitas 100 hingga 200 mm masih mengguyur Jakarta hingga dua pekan ke depan. Dengan merujuk data historis di mana curah hujan bulanan Februari berkisar 260 mm, dapat diperkirakan bahwa volume air cukup besar akan tumpah di daratan Jakarta, berpotensi banjir!

Bagaimana BMKG memprediksi nilai curah hujan tersebut. Dengan basis data historis rentang waktu 30 tahun didukung data tekanan untuk mengetahui pergerakan angin yang membawa massa air, kita dapat memproduksi prakiraan melalui pendekatan deterministik berbasis numerik ataupun mekanistik berbasis statistik.

Untuk yang sederhana, kita dapat mengetahui apakah hari ini hujan atau tidak adalah dengan mengetahui kelembaban udara lewat higrometer di pagi hari. Jika nilai kelembaban nisbi 80-90 persen, berarti hujan akan turun. Cara lain adalah dengan mengukur suhu titik embun lewat termometer bola basah di pagi hari. Jika suhu titik embun mendekati suhu udara aktual, ini menandakan udara sedang lembab dan sebentar lagi turun hujan. Bisa juga dengan merasakan perubahan udara, jika udara di malam hari terasa gerah dan panas, keesokan harinya akan turun hujan. 

Definisi perubahan iklim menyebutkan bahwa disrupsi tersebut terjadi karena faktor antropogenik (ulah manusia). Kita lihat Jakarta yang telah menjelma menjadi kota kosmopolitan bahkan megapolitan. Udaranya panas. Salah satu generator berubahnya iklim global adalah suhu yang memanas secara menyeluruh. 

Pemanasan ini mendorong massa udara bergerak cepat ke angkasa, menumbuhkan awan Kumulonimbus di atas Jakarta. Saat hujan turun dengan derasnya, berdampak munculnya genangan di mana-mana.

Untuk mengurangi panas sekaligus meminimalisir dampak perubahan iklim, kita butuh tanaman. Oleh karenanya Jakarta membutuhkan lebih banyak kawasan hijau.

Yopi Ilhamsyah
Peneliti Post-Doktoral Klimatologi Terapan IPB

Reporter Admin
Editor Editor