Soedirman, pelaku sejarah RI kelahiran 24 Januari 1916 dengan latar belakang yang sebenarnya tidak istimewa, nampaknya layak dianggap sebagai tokoh bangsa dengan reputasi paling istimewa.
Pada tanggal 28 Juni 1947, dia dilantik sebagai Panglima Besar TNI dengan pangkat Jenderal oleh Soekarno di Istana Presiden Yogyakarta (Gedung Agung). Menjadikan dia sebagai Jenderal termuda yang pernah dilahirkan negeri ini.
Seseorang yang kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam catatan sejarah bangsa ini, memiliki kisah yang menurut saya: memukau. Kita bisa telusuri kisah hidupnya di berbagai media cetak, cerita di layar kaca dan layar lebar, atau dokumentasi di berbagai arsip milik negara dan swasta, sampai berbagai tulisan & catatan yang berserakan di internet.
Menurut saya, kisah hidupnya dari sejak kecil, hingga ajal tiba pada usianya yang ke 34 tahun karena penyakit paru-paru akut dan berkepanjangan, adalah merupakan rangkaian kisah yang sarat dengan pelajaran dan makna tentang sebuah perjuangan. Itulah sebabnya, saya lebih suka mengenang Soedirman sebagaimana dia hidup, ketimbang mengenangnya sebagaimana dia mati.
Sejak kelahirannya, modal keberuntungan yang sempat dia punya hanya sewaktu diadopsi oleh paman-nya yang camat, meski camat kelas biasa. Itu pun, hanya mampu mendukung Soedirman sampai sebelum tamat sekolah tingkat atas, karena Sang Paman meninggal dunia. Setelah itu, seluruh pencapaian yang diraih dan diperolehnya adalah karena kharisma, komitmen dan kerja keras.
Seluruh catatan dalam kehidupan Soedirman tanpa sempat dihiasi cerita-cerita kemewahan materi. Juga tanpa ada catatan kisah asmara lebay, kecuali kisahnya dengan wanita yang kemudian jadi satu-satunya ibu dari anak-anaknya. Soedirman juga tidak punya noda catatan penyalahgunaan atau penyelewengan jabatan meski dia sempat berada pada posisi tertinggi di lembaga kemiliteran waktu itu, sebagai Panglima. Hal semacam ini yang memukau saya dan merasa perlu mendedikasikan catatan khusus, Soedirman adalah "Pribadi Yang Sangat Istimewa" .
Kisah nyata yang saya ketahui dari berbagai sumber, membuat saya sungguh respek pada pria yang awal profesinya adalah guru sekolah kemudian masuk tentara karena merasa mendapat "panggilan" untuk membela tanah airnya. Dalam kondisi kesehatan yang membuat dia harus ditandu ke mana-mana, karena penyakit paru-parunya yang kian memburuk, dia masih berpikir dan bekerja keras memimpin peperangan dengan cara bergerilya melawan agresi Belanda yang ingin terus berkuasa atas wilayah ibu pertiwi.
Salah satu kalimat penyemangat dari Soedirman pada para pejuang pada waktu itu adalah seruan: "Ibu Pertiwi Memanggil".
Masa kini, rasa hormat bangsa ini kepada Soedirman yang paling ikonik adalah mendedikasikan namanya menjadi jalan utama di hampir setiap kota di Indonesia. Bahkan di Jakarta, kota utama di republik ini yang sampai saat ini masih menjadi Ibu Kota Negara, menempatkan nama Soedirman sebagai nama jalan paling penting, bahkan pada salah satu ruasnya dihiasi sebuah monumen (patung) Sang Jenderal Besar dalam sikap hormat.
Memperhatikan monumen tersebut, jika saya punya kuasa, ingin rasanya merubah bentuk monumen (visualisasi sikap pada patung) tersebut. Menurut saya, bukan Soedirman yang harusnya digambarkan dalam sikap memberi hormat, karena dia layak untuk kita beri hormat dan kehormatan.
Selamat Ulang Tahun, Jenderal….