Netizen

Naluri & Intuisi...

Oleh: Admin Minggu 19 Jan 2020, 20:49 WIB
Heru Nugroho

Ketika Adam dan Hawa (Eva) turun ke bumi dan pertama bertemu kemudian berkomunikasi, mereka pake bahasa apa ya? Yang pasti bukan Bahasa Arab, atau Bahasa Jawa, juga gak mungkin Bahasa Inggris…

Mengacu pada alur paradigma para saintis, katanya proses penciptaan bahasa (verbal) sebagai alat paling utama bagi spesies manusia modern dalam berkomunikasi itu memerlukan waktu puluhan, mungkin ratusan, bahkan untuk sampai memiliki kekayaan kosakata serta struktur tata bahasa yang komprehensif, membutuhkan waktu hingga ribuan tahun.

Maka, ketika alat bantu komunikasi masih terbatas dan bahasa (verbal) yang dipergunakan masih amat sangat sederhana, mungkin baru dengan satuan atau puluhan kosakata, semestinya ada cara/mekanisme lain yang bekerja demi terbangunnya interaksi antar manusia dengan manusia lain dan lingkungannya.

Menurut saya, sejak era awal hingga kini, demi pemenuhan kebutuhan sosialnya, interaksi antar manusia dengan manusia lainnya, atau dengan lingkungannya adalah sebuah mekanisme peradaban manusia paling mendasar yang dorongannya sangat kuat untuk terpenuhi, seperti layaknya pemenuhan kebutuhan mendasar lain seperti urusan makan dan sex.

Namun ketika bahasa secara verbal masih dalam keterbatasan kosakata, serta minimnya dukungan alat bantu lain, interaksi dan komunikasi antar manusia terbangun dengan mengandalkan kinerja perangkat lain. Mungkinkah itu melalui mekanisme NALURI dan INTUISI?

Dengan persepsi dan paradigma peradaban manusia saat ini, bisa jadi kita sulit meyakini bahwa di era-era awal dahulu, Naluri dan Intuisi adalah perangkat manusia yang paling diandalkan untuk dalam rangka berinteraksi satu sama lain dan berkomunikasi. Namun jika memperhatikan perilaku makhluk hidup yang berkerabat paling dekat dengan manusia (hewan mamalia), nampaknya masuk akal.
 
Mengutip dari catatan Wikipedia, naluri atau insting adalah suatu pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu yang tidak dipelajari tetapi telah ada sejak kelahiran suatu makhluk hidup dan diperoleh secara turun-temurun (filogenetik).

Menurut saya, manusia sekarang pun masih memiliki kemampuan naluriah yang kuat pada hal-hal tertentu, misalnya terhadap urusan seks. Namun untuk kebanyakan urusan lain, sudah makin "menumpul" .

Juga saya kutip dari catatan Wikipedia, Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas.

Sepertinya pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain dan di luar kesadaran. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca sebuah buku.

Ternyata, di dalam buku itu ditemukan keterangan yang dicarinya selama bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus pergi ke sebuah tempat, ternyata di sana ia menemukan penemuan besar yang mengubah hidupnya.

Jika intuisi ini kita istilahkan sebagai sebuah kemampuan (kapasitas), maka jelas kemampuan semacam ini sudah makin langka dimiliki oleh manusia zaman sekarang.

Sehubungan dengan berkembangnya jaman dan peradaban, maka sangat logis bila mekanisme tersebut (naluri & intuisi) makin lama makin menurun "kapasitas"-nya  pada manusia modern sekarang ini, seiring makin berkembangnya kosakata dan alat bantu lain, berupa perangkat yg kita kenali sekarang dlm berbagai bentuk, termasuk berbagai karya cipta teknologi.

Dan saya baru bisa nulis sampe sini, selanjutnya masih perlu lebih banyak ngelamun


Heru Nugroho
Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerjasama, dan Marketing PANDI; Mantan Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga

TAGS:
Reporter Admin
Editor Widya Victoria