Menata kota-kota besar macam Jakarta dan kota lain di indonesia yang sekarang tengah diterjang banjir memang sudah terlanjur menjadi terlalu rumit.
Sikap Rezim sekarang yang dipimpin Presiden Jokowi untuk menghibur diri yang paling simpel adalah dengan menyatakan bahwa persoalan-persoalan yang ada ini karena kesalahan yang dibuat oleh rezim sebelumnya.
Rezim SBY juga mengalami persoalan yang sama, dalam banyak hal dianggap gagal menata kota-kota besar di Indonesia. Di tahun 2007, Jakarta mengalami banjir besar hingga menewaskan sekitar 80 orang.
Cara mudah untuk mereka melarikan diri dari tekanan masyarakat adalah dengan menyalahkan rezim sebelumnya.
Masa Gus Dur/Mega berkuasa pun tak luput dari hujatan masyarakat, karena pada masa itu beberapa kota besar pernah diterjang banjir hebat, termasuk Jakarta yang waktu itu, tahun 2002, lebih dari seperempat wilayah Jakarta terendam air.
Soeharto yang paling lama berkuasa di antara rezim-rezim sebelumnya mau kita salahkan? Ya ndak bisa gitu juga. Karena pada tahun 1918, sejarah pernah mencatat bahwa kota Batavia yang sekarang disebut Jakarta pernah digerayangi banjir hebat.
Bahkan sejarah juga mencatat, pada tahun 395-434 M, Raja Purnawarman pernah memerintahkan pembuatan kanal baru untuk mengatasi banjir di wilayah Tarumanegara, termasuk di daerah yang sekarang bernama Jakarta.
Jadi kita mau nyalahkan siapa?
Kayaknya gak ada yang salah atau bener. Kita aja yang keblinger gak mensyukuri nikmat yang diberi oleh Sang Maha Panguasa Alam Semesta. Karena di balik persoalan banjir ini, masih banyak kenikmatan yang dikarunia alam semesta untuk wilayah ini.
Sebuah wilayah yang gak kenal panas terik seperti di wilayah gurun dan gak pernah sedemikian mencekam saat dihampiri musim dingin hingga temperatur mendekati nol derajat....
Ketika populasi penduduk makin membludak dan arus urbanisasi sulit terbendung, maka upaya penataan wilayah kota jadi persoalan pelik dan menghadirkan kerumitan yang makin serius.
Heru Nugroho
Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerjasama, dan Marketing PANDI; Mantan Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga