Netizen

Makna di Balik Pohon Terang Perayaan Natal

Oleh: Admin Rabu 25 Des 2019, 12:24 WIB
Ilustrasi pohon natal

Sebagian di antara kita mungkin ada yang belum tahu tentang kisah Pohon Terang. Semoga uraian singkat ini dapat mengantarkan sedikit pemahaman dan pencerahan bagi kita semua sebagai masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai agama dan bermacam aliran kepercayaan.

Dalam Al-Quran Surah Thâhâ [20]: ayat 10-14 digambarkan bahwa Nabi Musa AS melihat api dari kejauhan. Setelah mendatangi api itu, Musa AS lantas melihat pohon terang laksana terbakar tetapi tidak terbakar. Bagi Musa, pohon terang adalah cahaya milik Tuhan yang melambangkan hadirnya kehidupan baru bagi manusia menuju puncak kesadaran akan Kemahahadiran Tuhan dalam setiap dimensi kehidupan.

Di balik peristiwa pohon terang itu Musa dipilih Tuhan menjadi Rasul-Nya dan menerima wahyu-Nya. Pohon terang adalah lambang kebijaksanaan (wisdom). Peristiwa Musa melihat pohon terang (Api) ini sama halnya seperti dilihat Nabi Muhammad SAW, ketika Mi'râj sampai ke Sidrâh al-Muntâhâ.

Sidrah adalah pohon yang melambangkan kebijaksanaan dan kearifan. Nabi Muhammad SAW melihat dalam bentuk pohon terang yang diliputi kegermerlapan cahaya. (QS. An-Najm [53]: ayat 12-18). Sedangkan Al-Muntâhâ artinya puncak tertinggi. Sidrâh al-Muntâhâ ini tidak pernah dapat dimasuki siapa pun, termasuk Malaikat Jibril. Demikian pula secanggih-canggihnya ilmuan di bidang astronomi tidak sanggup menggapainya.

Apabila Nabi Muhammad SAW sampai ke Sidrâh al-Muntâhâ (Luth Tree), artinya Nabi Muhammad SAW telah mencapai puncak kearifan yang tertinggi. Tiada lagi puncak kearifan setelah itu sepanjang kemampuan manusia biasa.

Maka dari itu, dalam agama Semitik atau agama Abrahamistik (agama rumpun Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam), hakikatnya terdapat lambang pohon terang. Keberadaan pohon terang itu idealnya dimaknai sebagai hadirnya cahaya petunjuk bagi manusia menuju puncak kesadaran akan Kemahahadiran Tuhan dalam setiap dimensi kehidupan. Dan, bukan untuk diperdebatkan tanpa dasar pengetahuan dan keinsafan yang mendalam dengan bernada saling merendahkan sehingga sejatinya membuat yang bersangkutan jauh dari kehadiran Tuhan.

Demikian juga pada perayaan Natal ada pohon terang. Namun apakah umat Nasrani memaknai keberadaan pohon terang sebagai lambang keinsyafan untuk menuju kebijaksanaan dan kearifan yang sejati guna mendekatkan diri kepada Tuhan, atau pohon terang hanya sebatas sebagai ornamen/dekorasi pada perayaan Natal, maka semuanya tergantung pada mereka.

Selamat Hari Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Semoga kita semua mendapat keberkatannya


Prof Bambang Saputra
Pengamat Politik dan Hukum; Sekjen Sadulur Jokowi; Cendekiawan Muslim

Reporter Admin
Editor Widya Victoria