Netizen

Ketika Pohon Angsana Meringis di Cikini

Oleh: Admin Selasa 05 Nov 2019, 09:33 WIB
Sisa pohon yang ditebang Pemprov DKI Jakarta di trotoar kawasan Cikini, Jakarta Pusat/Twitter @kemalarsjad

Warga Jakarta tiba-tiba dikejutkan dengan penebangan sejumlah pohon besar di Kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Kabarnya sebagian besar adalah pohon Angsana.

Di seberang Stasiun Cikini terdapat sedikitnya 8 bekas pohon yang ditebang persis berada di tengah-tengah trotoar yang sebelumnya diperlebar.

Kondisi pohon saat ini memang sudah habis ditebang, hanya tersisa bagian akar dengan tinggi sekitar 5 sentimeter di atas permukaan tanah. Sejumlah petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta menggali pohon Angsana itu satu per satu agar bersih.

Sontak saja penebangan pohon-pohon besar di Cikini Jakarta Pusat menuai protes. Pembabatan pohon-pohon besar tersebut karena pelebaran trotoar di Kawasan tersebut. Memang beberapa bulan ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah melakukan pelebaran trotoar di Cikini dan sekitarnya.

Proyek pelebaran trotoar sama sekali tidak salah. Apalagi sudah sekian lama warga Ibu Kota merindukan ruang (koridor) pejalan kaki yang lebih manusiawi. Pejalan kaki membutuhkan pedestrian yang memiliki standar yang baik. Tempat di mana warga dapat berjalan dengan nyaman, teduh, aman dari kendaraan sambal melihat dan mengamati bangunan-bangunan beserta lingkungan di seputarnya.

Apalagi Pemrov DKI Jakarta pada 1997 lalu pernah memaparkan suatu konsep pedestrian yang lebar untuk Jalan MH Thamrin. Kini, sebagian konsep itu sudah terwujudkan walau belum sempurna. Pendestrian di sekitar Jalan Sudirman juga sudah ciamik. Para pekerja sudah nyaman berjalan kaki menuju kantornya. Walau pedagang kaki lima (PKL) masih diam-diam berjualan menawarkan nasi uduk, susu kedele hingga sarapan pagi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan pedestrian tersebut belakangan dirusak dengan munculnya ojek online dan ojek konvensional serta pedagang kaki lima (PKL). Artinya, impian sebuah pedestrian yang nyaman bagi pejalan kaki belum sebatas yang diimpikan. Dalam beberapa kejadian, ojek online maupun ojek konvensional termasuk PKL lebih galak menguasai trotoar. Tengok saja di Kawasan Kebon Sirih dekat kantor wakil rakyat Jakarta. Ujung-ujungnya: pejalan kaki menjadi anak-tiri di kotanya. Tragis memang!

Pengawasan aparat di lapangan agaknya menjadi persoalan serius yang kerap diabaikan begitu saja. Niat baik namun setelah itu pelebaran trotoar dibiarkan sehingga hak pejalan kaki terabaikan. Jeritan pejalan kaki pun sama sekali tak dihiraukan! Ibarat berteriak di padang tandus.

Namun persoalnya menjadi lain ketika sejumlah pohon Angsana di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat harus dibabat habis hanya untuk sebuah pelebaran trotoar yang ketika sudah terwujud nantinya malah hanya dikuasai ojek online, ojek konvensional dan PKL. Sebaliknya hak pejalan kaki sama sekali raib begitu saja.

Apakah ini menunjukkan betapa lemahnya perhatian pengelola kota ini terhadap ruang terbuka hijau (RTH)?

Tentunya penghuni Jakarta tidak ingin kotanya mendapat julukan baru sebagai Kota Multikrisis. Multikompleks persoalan akan semakin bertambah setiap hari untuk membelit dan menjepit Jakarta pada pilihan-pilihan pahit. Persoalan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah salah satu masalah yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

AYO BACA : Pohon Angsana dan Beringin Ditebang, Gantinya Tabebuia Percantik Trotoar Cikini

Belum hilang dari benak kita ketika 250 batang pohon di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Suprapto dibabas habis hanya karena proyek Busway tahap II dan III. Itu kejadian beberapa tahun lalu. Median jalan yang merupakan bagian dari jalur hijau jalan dan termasuk komponen dari RTH dengan sangat dipaksakan dikorbankan demi kepentingan pengelola program dan atas nama menyelamatkan Jakarta dari ancaman kelumpuhan lalu lintas total. Mobil dan pohon menjadi fenomena konflik baru baru dalam komponen perkotaan.

Dalam kasus penebangan pohon Angsana di Cikini memunculkan konflik antara pelebaran trotoar dengan pohon. Bukan tidak mungkin ke depan akan muncul konflik baru dengan komponen perkotaan yang berbeda. Bukan tidak mungkin pula kasus penebangan pohon Angsana di Cikini akan muncul di lokasi lain. JIka hal itu terjadi maka RTH sudah pasti akan selalu menjadi korban, median jalan akan hilang berubah menjadi ruas jalan, pedestrian semakin terus diperlebar, sementara jumlah taman (baca: pohon-pohon tua) akan semakin menipis. 

Krisis RTH menjadi ruang tanpa hijau. Yang ada nanti hanya ruang dengan hutan beton yang terus membabat lahan-lahan seperti taman yang sebenarnya berfungsi sebagai wadah interaksi penghuni kota ini. Kondisi itu diperburuk lagi jika terjadi kongkalingkong antara aparat dengan pengembang di lapangan.

Diakui atau tidak: kehadiran pohon dalam lingkungan kehidupan manusia khususnya di perkotaan, memberikan nuansa kelembutan tersendiri. Perkembangan kota yang lazimnya diwarnai dengan aneka rona kekerasan, dalam arti harfiah ataupun kiasan, sedikit banyak dapat dilunakkan dengan elemen alamiah seperti air (baik yang diam-tenang maupun yang bergerak-mengalir) dan aneka tanaman (mulai dari rumput, semak hingga pohon).

Buddha pernah mengajarkan bahwa kelembutan adalah lambang kehidupan, sedangkan kekerasan adalah lambang kematian. Suatu kota yang hanya sarat dijejali dengan beton, besi, baja, batu dan bata yang serba keras, tidak dilengkapi dengan ruang terbuka hijau yang mencerminkan kelembutan, berarti sudah dekat dengan ambang kematian!

Sebaliknya kota yang kaya dengan taman dan ruang terbuka hijau apalagi memiliki hutan kota, berarti kota yang menjanjikan kehidupan.

Pertanyaannya: maukah pengelola kota ini memberi kehidupan dengan tetap terus menambah ruang terbuka hijau? Atau sebaliknya menjejali setiap jengkal kota ini dengan hutan beton?

Semoga Jakarta tetap menjadi kota yang menjanjikan sebuah kehidupan bukan sebaliknya menyiapkan kematian. Semua itu tergantung pengelola Kota Jakarta! 

Akhirnya hanya menanti slogan “Maju Kotanya Bahagia Warganya” menjadi kenyataan dan bukan basa-basi belaka apalagi pemanis di bibir saja.

Norman Meoko
Wartawan senior

 

 

Reporter Admin
Editor Aldi Gultom