Sering kita dengar pesan bahwa, "Jaga mulut, jaga ucapan tetap sopan terutama di hutan pegunungan”.
Juga sering kita dengar di zaman dahulu, saat-saat kita becanda kelewatan, bahwa "Hati-hati kalau bicara, nanti ada Wali lewat”.
Siapa yang pernah dengar kata-kata itu? Kalau ada yang pernah dengar, berarti kita seumuran.
Kata pesan itu ternyata bukan sekadar kiasan atau hanya sebuah ucapan ala kadarnya. Saya telah membuktikannya. Semua terasa biasa saja, candaan ringan bersama kawan seperjalanan di dalam hutan.
Saat itu (tahun 1998), saya mendaki bersama anak-anak muda, anak seorang kawan bersama teman sekolahnya. Di mana saya tahu dengan baik anak ini (sebut saja namanya Eko) yang biasa saya panggil dengan Koko. Sudah puluhan kali mendaki seorang diri ke Gunung Arjuna via Tretes (Jawa Timur).
Koko sanggup melakukan pendakian itu puluhan kali seorang diri, awalnya karena efek patah hati.
Luar biasa. Cinta itu memang sanggup membuat seseorang menjadi berani, bahkan berani mati, tidak peduli apapun yang akan terjadi. The power of love.
Pokoknya, intinya, karena Koko sudah hapal jalur di luar kepala maka saya ikut mendaki bersamanya. Karena keinginan ke Arjuna belum kesampaian dari tahun 89.
Biasa anak-anak muda, saling membully, bercanda tiada henti. Tapi tidak ada yang sakit hati. Jalan panjang menjadi tidak terasa lagi.
Sampailah kami di area pondokan pencari Belerang di seputaran Gunung Welirang, istirahat sebentar untuk makan siang. Tiba-tiba saya mendengar, salah satu temannya bertanya, "Ko, kamu tahu jalannya tidak ke Arjuna?" Dengan cepat Koko pun memberi jawaban, "enggak tahu!"
Saya sempat berpikir, apakah temannya ini memang tidak tahu kalau Koko sudah biasa mendaki sendirian ke sini? Atau ini hanya bagian dari bully-an mereka, dan jawaban Koko jadi terasa sebagai jawaban ala kadarnya atau bisa menggambarkan juga kekesalannya.
Ya sudahlah, istirahat telah usai, kamipun melanjutkan perjalanan, saya tidak memikirkan lagi apa yang barusan saya dengar. Yang terpenting saya pribadi tahu betul bahwa Koko tahu jalan menuju Puncak Arjuna.
Mulailah kami masuk hutan, ngobrol sambil becanda tidak pernah ketinggalan mewarnai perjalanan. Tapi saya mulai bingung dan mulai menyadari, kenapa bisa melewati pohon roboh, yang sama dan sudah lebih dari tiga kali?
Saya memutuskan berhenti dan berkata, "tolong stop semuanya”. Saya bertanya pada yang lain, "adakah dari kalian yang menyadari, berapa kali kita melewati pohon roboh ini?"
Mereka mencoba mengingat dan mulai termenung, ikut bingung.
Kita hanya berputar-putar disini dari tadi. Saya jadi ingat tanya-jawab itu. Lalu saya memutuskan untuk bertanya pada Koko.
"Tolong dijawab dengan benar, tahu tidak jalan ke Puncak Arjuna?"
"Tahu, mbak," jawab Koko dengan cepat dan tegas.
"Oke, kalau memang tahu, ayo kita lanjutkan perjalanan. Tapi kalau jawabanmu tidak tahu, lebih baik kita kembali pulang," jawab saya.
Walhasil, begitu Koko menjawab tahu, dengan cepat kita bisa menuju jalan yang tepat dan sampai pada puncak yang kami tuju.
Kalau dipikir secara logika, memang aneh dan tidak masuk akal. Hanya karena pertanyaan dan jawaban yang ringan, tapi berdampak pada perjalanan yang melelahkan dan menyesatkan.
Tapi itulah pelajaran yang bisa kita dapatkan. Bicaralah dengan benar, walaupun itu dalam situasi canda. Ataupun dalam kondisi hati kesal. Tetaplah hati-hati.
Seringkali, kita berucap begitu saja, lalu lupa, apalagi kalau itu dalam konteks bercanda.
Ternyata, apapun yang kita ucapkan itu adalah doa. Maka itu ada juga pepatah yang mengatakan, "Mulutmu Harimaumu"
Merasakan pelajaran dari alam ini, membuatku menyadari bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, sebetulnya adalah buah dari apa yang pernah kita ucapkan sendiri. Entah kapan diucapkan, waktunya akan tiba juga.
Memang dalam kejadian ini, bukan saya yang mengucapkan, tapi alam ingin memberi kita pelajaran. Dan tidak perlu menyalahkan, karena alam dan sekitarnya adalah guru sejati dalam kehidupan.
Mulailah dari sekarang, ucapkan segala sesuatu tentang kebaikan saja agar perjalanan hidup ini juga baik-baik saja.
Yanni Krishnayanni
Pendaki Gunung, Komunitas Swara Ibu Asah Bangsa Indonesia (SIABI)