Duduk termenung melihat Gunung itu, aku jadi mengingat masa lalu, ketika pertama kalinya naik gunung.
Gunung itu terlihat tinggi menjulang, nampak halus dari kejauhan. Kenyataannya penuh batu, semak belukar, terjal dan tak jarang lewat di pinggiran jurang. Rasanya mustahil untuk mencapai ujung puncaknya.
Saat masih berada jauh di bawah, ada keraguan bisa mencapainya. Belum apa-apa, merasa ogah dan bikin putus asa. Tapi pengen banget.
Maka pertanyaan biasa dalam perjalanan "Masih jauhkah?", "Berapa jam lagi?"
Rasanya kok tidak sampai-sampai.
Hingga timbul perasaan kapok atau jera, bahkan bersumpah dalam hati, tidak mau lagi!
Anehnya, bagi jiwa yang bersinergi, kata orang : "Kapoknya kapok lombok." Kalau ada yang ngajakin lupa sudah sengsaranya. Dan ternyata itu benar adanya.
Dalam pendakian, bila kita bersama teman-teman yang tepat maka kitapun merasa menjadi kuat. Kebersamaan itulah yang membuat kita lupa seberapa jauhnya, seberapa capek dan sakitnya kaki, dengan mudah pula, lupa akan sengsaranya.
Contohnya sepertiku. Akhirnya lagi dan lagi.
Dalam pendakian juga, kita mulai bisa lebih dalam mengenali kawan.
Sering orang bilang, kalau mau tahu sifat asli seseorang, ajaklah mendaki Gunung. Menurutku enggak harus juga sih, tapi itu memang salah satu cara mudah untuk mengetahui.
Mungkin 80 persen bagi yang pertama kali mendaki, saat mencapai puncak akan merasa haru-biru, dada sesak dan matapun berkaca-kaca. Saya pun mengalaminya, dan masih juga sering kualami.
Sekarang, mendaki menjadi "candu" diri, untuk mengukir jiwa pribadi. Karena alam memberikan jawaban atas segala pertanyaan. Tempat guru sejati.
"Sekuat apapun dirimu, jangan pernah meninggalkan temanmu sendirian dengan alasan apapun." Itu pesan instruktur pecinta alamku jaman dulu. Dan akan ku ingat selalu.
Jangan lupa persiapkan perlengkapan dan peralatan secara pribadi sebaik mungkin. Karena apapun bisa terjadi. Biasakan mandiri.
Seruput dulu kopinya yuuk, sambil mengawasi apa yang akan terjadi pada negeri yang indah ini.
Semoga tetap bisa terjaga dan damai sejahtera.
Lestari Ibu Pertiwi
#bawaturunsampahmu
#jagahutandangunungmu
Yanni Krishnayanni
Pendaki Gunung
Komunitas Swara Ibu Asah Bangsa Indonesia (SIABI)