Presiden Jokowi sudah melantik para menterinya yang akan membantu membangun Indonesia maju dan hebat pada periode kedua. Banyak wajah baru dan menarik dari menteri-menteri yang dilantik oleh Presiden Jokowi.
Melihat penampilan dan kapasitas keberhasilan para menteri kabinet Presiden Jokowi ini, menumbuhkan banyak harapan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan menjadikan Indonesia maju.
Terus terang saja, setelah melihat pelantikan para menteri, saya langsung teringat pada pesan seorang teman pedagang pasar di dekat rumah. Beberapa hari lalu, sebelum Presiden Jokowi memilih dan melantik menterinya, kawan itu berpesan kepada saya agar menyuarakan soal kesehatan dan pendidikan. "Ayo bang bicarakan dan sampaikan keluhan kami. Setidaknya dua soal penting, kesehatan dan pendidikan yang diperbaiki, agar hebat bangsa ini. Kesehatan, itu loh BPJS diperbaiki agar bisa menyehatkan rakyat. Jangan hanya menyehatkan pejabat dan karyawannya saja. Pendidikan, tolong agar semua anak miskin bisa dapat sekolah di sekolah yang baik. Tolong ya bang Tigor suarakan," begitu harapan yang disampaikan saat bertemu saya di pasar.
Pembicaraan itu, pembicaraan di pasar tempat rakyat berjuang hidup. Harapan itu harapan rakyat. Suara itu, suara rakyat. Suara rakyat, suara Tuhan. Ada dokter Terawan yang terkenal dengan prestasi pengobatan stroke dengan mencuci otak. Juga ada Nadiem Makarim yang terkenal sebagai pendiri Gojek, layanan transportasi berbasis online. Kedua orang menteri, dokter Terawan dan Nadiem Makarim adalah orang yang tepat untuk menjawab dua harapan teman saya pedagang pasar tersebut.
Saya menulis harapan ini dan ingin menyuarakan harapan teman saya, dan harapan rakyat. Masalah pelayanan bidang kesehatan yang sedang belum sehat adalah soal BPJS. Pak dokter Terawan, Menteri Kesehatan, sekarang ini BPJS sedang alami stroke, selalu defisit keuangan, kurang uang dan perlu tindakan pengobatan dengan mencuci otak para pejabat BPJS.
Para pengelola BPJS perlu tindakan cuci otak agar tidak terus bikin defisit keuangan dan mengakibatkan BPJS stroke terus menerus. Jika BPJS alami stroke maka rakyatlah yang akan mati.
Begitu pula masalah pendidikan adalah masalah strategis yang harus ditangani lebih baik. Saat ini pendidikan di Indonesia alami kemacetan, anak-anak Indonesia yang miskin sulit mendapatkan pendidikan baik di sekolah baik. Jalan menuju pemenuhan hak atas pendidikan yang baik sedang alami kemacetan. Pemecahan masalah pendidikan ini perlu langkah percepatan mengurai kemacetannya.
Sepertinya pengalaman anda memberi alternatif transportasi berbasis aplikasi untuk membantu menerobos kemacetan perlu dilakukan di pendidikan yang baik lebih mudah diakses anak miskin. Pak Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan yang punya pengalaman membangun percepatan transportasi berbasis online bisa memperbaikinya.
Silakan Pak Nadiem lakukan percepatan pemenuhan hak pendidikan bagi semua anak bangsa ini agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju.
Semoga harapan teman saya, akan adanya perbaikan di bidang kesehatan dan pendidikan dapat terwujud. Hasilnya bisa dinikmati betul oleh seluruh bangsa Indonesia dan membangun SDM Unggul dan Indonesia Hebat.
Azas Tigor Nainggolan
Pengamat Kebijakan Publik dan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)